Konstelasi Jual Diri.

ada yang gelisah karena saban hari memungut sampah
atau bergelut dengan keringat
dengan nafas anyir laksana tunggu kiamat

tapi tak sedikit yang terbahak
hanya diam di tempat
menjilati darah atas nama dahaga

              inikah kata orang:
              kompetisi?

              melaju begitu cepat
              berebut satu singgasana
              demi gelar paduka

Malang. 3 Februari 2011

Mimpi yang Terkepal di Antara Segenggam Kebencian.


It’s a mystery to me.
We have a greed to which we have agree.
And you think you have to want more than you need.
Do you have it all want be free.
Society you’re crazy breed.
Hope you’re not lonely without me.
— Eddie Vedder, Society

Belakangan ini saya sibuk berkeliaran di kampus, mengurusi segala macam tetek bengek persiapan ujian komprehensif (istilah untuk menyebut sidang skripsi) yang sangat menyita waktu. Betapa tidak, saya harus menunggu dosen tanpa kepastian apakah dosen tersebut akan datang atau tidak. Satu hari, nihil. Dua hari, nihil. Tiga hari, tetap nihil. Baru hari keempat ada sedikit kemajuan, dan untunglah dapat terselesaikan di hari-hari berikutnya.

Rutinitas ruwet seperti ini begitu membosankan, apalagi tanpa ada teman. Lebih dari separuh mahasiswa angkatan saya telah lulus, hanya beberapa gelintir saja yang saya lihat di kampus, nampaknya mereka juga memiliki kesibukan yang sama seperti saya. Faedahnya, urusan-urusan semacam ini memang berkhasiat untuk semakin merekatkan hubungan pertemanan. Dari yang semula tidak kenal menjadi kenal, dan tidak akrab menjadi tambah akrab. Tentu saja, karena ‘persamaan nasib di ujung tanduk’.

Jika semuanya lancar, maka beberapa minggu lagi di jidat saya akan tertempel sebuah label permanen bertuliskan “fresh graduate”. Dan beberapa bulan lagi saya akan diwisuda, itu artinya saya harus sesegera mungkin mulai mencari pekerjaan.

Menjelang saat-saat itu, belakangan juga membuat saya sering teringat petualangan si Christopher (a.k.a Alexander Supertramp) yang kisah nyatanya diuraikan kembali dalam buku dan film berjudul “Into the Wild”.

Berisi cerita tentang Christopher Johnson McCandless, seorang anak muda broken home. Chris berontak dari kemauan orangtuanya jika sudah lulus kuliah maka ia harus memiliki karir yang cemerlang demi masa depannya. Chris berpandangan lain, rupanya setelah membaca banyak buku karangan humanis seperti Leo Tolstoy, Dr. Zhivago maupun Henry David Thoreau, ia mendapati bahwa hidup bahagia tidaklah melulu berkaitan dengan uang. Dan agaknya kemuakan itu juga diperkuat oleh pertengkaran orang tuanya yang semakin menjadi-jadi justru di saat karir keduanya mencapai tampuk kegemilangan.

Selepas wisuda dari University of Emory, Chris memutuskan untuk mendonasikan seluruh uang tabungan yang seharusnya ia gunakan sebagai biaya pendaftaran ke Fakultas Hukum Harvard, kepada Oxfam America. Selanjutnya ia menghilang tanpa kabar dan pergi berpetualang sendirian. Ia melalui banyak hal, mulai dari membantu para pekerja ladang jagung, bertemu para backpacker dan komunitas hippies, berbagi rasa dengan gadis muda yang jago bermain musik folk, tertangkap polisi perbatasan, dihajar petugas kereta api, ditawari adopsi oleh seorang kakek veteran tentara, hingga akhirnya sampai pada tujuan utama perjalanannya: Alaska.

Puncaknya, setelah beberapa bulan hidup di tengah hutan Alaska, ia kelaparan karena tidak menemukan satupun binatang untuk diburu. Dan memaksanya memilih tumbuhan liar untuk dimakan, tapi naas, ia salah pilih tumbuhan sehingga membuat dirinya keracunan, lumpuh, dan akhirnya mati terkapar di dalam “magic bus” (sampai sekarang saya masih penasaran, bagaimana bisa ada bus nangkring di tengah hutan Alaska?)

Tragis memang, di tengah rencana kepulangannya, petualangan Chris justru harus berakhir dengan mengenaskan. Tapi setidaknya ia mati di saat menjalani proses mencari esensi kehidupan sesuai yang selama ini ia idam-idamkan, yaitu apa yang ia sebut sebagai “revolusi spiritual”, sebuah pertarungan puncak untuk membunuh kepalsuan yang ada dalam diri, dan menuju kebebasan.

Bukan di tengah kebosanan dan keterpaksaan di bawah ketiak modernisasi.

**********

""We do not lack communication,
on the contrary we have too much of it.
We lack creation. We lack resistance to the present."
— Gilles Deleuze & Felix Guattari

Jujur saya akui bahwa kisah si Alexander Supertramp ini memang memikat dan menginspirasi. Memberikan pencerahan dan perspektif baru dalam menyikapi hidup. Membuat saya iri dengan segala keberanian yang dimilikinya untuk menempuh puluhan resiko yang tak dapat terprediksikan. Begitu pula teman-teman saya, banyak dari mereka yang terpesona dengan kisah ini. Terutama mereka yang memang menyukai suasana alam liar. Dan di satu sisi, menyimpan kebencian terhadap masyarakat modern.

Mungkin, kamu akan bertanya-tanya:

Kenapa pula harus begitu membenci kehidupan modern? Dan lagi-lagi, kenapa saya harus menyumpahi masyarakat modern? Bukankah mereka menyukai ini? Bukankah ini yang mereka harapkan, sebuah mimpi peralihan dari era kuno menuju era yang lebih maju dan sejahtera? Sebuah pencapaian umat manusia, yaitu peradaban modern.

Oke. Sekarang giliran saya mengajukan pertanyaan:

“Kemajuan dan kesejahteraan” seperti apa yang kamu maksud?

Bagi saya adalah suatu kesalahan fatal jika harus mengamini pembangunan yang berarti perampasan tanah demi estetika kota, penetrasi alam demi akumulasi modal, pendidikan kaum adat demi budaya kerja dan konsumtif, parade filantropis demi kamuflase ekonomis, pembentukan birokrasi demi tatanan demokratis, serta segala macam otorisasi dan dominasi yang akhirnya selalu berujung pada penindasan, penghisapan, degradasi serta pemiskinan massal.

Sudahkah kamu mengerti?

Kesemrawutan dan keganasan-keganasan inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang begitu membenci kehidupan modern. Tak sedikit dari mereka yang berupaya keras untuk sejenak menghilang dari lingkup harian seperti ini. Mungkin itu jugalah yang sempat dirasakan orang-orang seperti Christopher, Ted Kaczynski, Subcomandante Marcos, Butet Manurung dan mereka-mereka yang berusaha menghidupi hidup di luar perangkap modernisasi.

Karena itu, bukankah sekarang lebih tepat jika saya mengajukan pertanyaan ini:

“Kemajuan dan kesejahteraan” siapa yang kamu maksud?

Karlmayer: Masih Kalah Berisik Dibandingkan Merzbow, Sama Sekali Tak Halusinogenik Daripada GY!BE.


Minggu sore kemarin di squat, saya dan Aswin menonton sebuah video yang dikenal dengan sebutan “karlmayer”. Video ini menyajikan potongan-potongan gambar dengan suara berisik, lengkingan, jeritan atau cekikikan, mulai dari gambar panorama bunga-bunga indah hingga wajah badut bertopeng seram, diulang beberapa kali. Saya tak tahu deskripsi apapun tentangnya, ketika saya search di internet pun tak ada sumber-sumber yang memaparkan lebih detail terkait karlmayer ini.

Sesungguhnya, racikan noise semacam ini sudah tak terlalu asing bagi saya. Mungkin orang-orang yang terperangah dan begitu terpesona dengan kebisingan karlmayer sekali waktu harus mendengarkan Merzbow. Lagipula, menghabiskan waktu dengan menikmati deretan nomor dari Godspeed You! Black Emperor pun lebih asyik karena dapat memancing imajinasi melalui kesunyian sekaligus ‘keseraman’ yang Efrim Menuck dan kawan-kawannya suguhkan. Jeda di tiap aransemen mereka mampu menghadirkan sekilas ekstase untuk menikmati sensasi ketegangan serta buaian kelam. Atau racikan yang lebih bersahabat di telinga seperti Sigur Ros dan Amiina yang akan membuat saya terseret ke dalam nuansa imajiner yang riang nan damai.

Konon, karlmayer pernah digunakan sebagai ‘media’ untuk menginterogasi seseorang dengan memaksanya terus menerus mendengar suara ini dalam volume maksimal. Dan diyakini mampu berakibat fatal, mulai dari memicu halusinasi hingga sang korban mencapai delusi yang cukup parah.

Saya terbahak-bahak setelah mengetahui informasi ini. Sangat berlebihan, tentu saja berakibat fatal. Siapa yang tidak stress ketika dicekoki suara yang sama terus menerus? Alhasil, video berisik ini sama sekali tak berhasil membuat saya berhalusinasi, selain hanya menyebabkan telinga sedikit berdengung akibat volume yang terlalu tinggi saat menyetelnya, lalu merengut di depan layar komputer dan bertanya-tanya, “apaan sih maksudnya gambar-gambar ini?”.

Entahlah, saya memang tidak merasakan apapun ketika mendengarnya. Mungkin karena saya kurang sensitif atau peka? Atau mungkin gara-gara suasana saat itu memang tidak cocok, sore hari dengan guyuran hujan gerimis. Jadi mungkin lebih pas ketika disetel menjelang adzan subuh? Entah. Tapi kalau itu alasannya, bukankah mendengarkan musik apapun di kala Subuh juga pasti akan terasa sensasi yang berbeda, tentu saja akibat mengantuk.

Ah, satu tips bagi pemuja karlmayer:

Coba cari dan dengarkan Anal Cunt, band homophobic asal Jerman, album “Picnic of Love”, saya jamin pengaruhnya akan jauh lebih dahsyat dibanding karlmayer. Bukan delusi, tapi sepertinya kamu bakal mengalami frustrasi, atau mungkin lebih parah lagi, uring-uringan.

Instrumen Teknologi: Sebuah Kegilaan yang Mengancam.


"When you let the machines take control almost all parts of your life, you’ll lost your humanity. Gradually, you’ll become one of them.
— Green Anarchy

Saling menelepon adalah agenda rutin tiap malam bagi saya dan kekasih saya, bahkan seringkali kami telepon saat larut malam hingga salah satu tertidur dan kemudian hanya terdengar dengkuran di gagang telepon. Sungguh mengenaskan, kami berdua harus pacaran melalui mediasi seonggok mesin bernama telepon genggam.

Tapi tak banyak cara yang mampu kami lakukan, ini memang satu-satunya alternatif agar kami bisa tetap berkomunikasi. Jakarta-Malang terlalu jauh untuk kami tempuh dalam periode yang kontinyu, sehingga membutuhkan waktu luang yang cukup lama agar kami dapat saling mengunjungi dan menghabiskan waktu berdua. Dan waktu luang (sekaligus uang) inilah yang sangat jarang kami miliki.

Belakangan ini, kekasih saya yang notabene pegawai baru di TransTV, sangat sering bercerita panjang lebar tentang betapa parahnya para pegawai disana. Hampir semua memiliki BlackBerry, belum lagi ditambah satu telepon genggam lain dengan merek berbeda. Kondisi kerja disana seakan-akan memang menuntut para pegawainya untuk memiliki BlackBerry. Bagaimana tidak? Tiap ada agenda rapat, memo atau informasi-informasi lainnya selalu disebarkan lewat BBM, sehingga mereka yang tidak memiliki BlackBerry tentu saja bakal kewalahan.

Lucu? Sesungguhnya memuakkan.

Ia juga sering mengeluh karena kerap diacuhkan oleh teman-temannya yang sedang keranjingan gadget satu ini. Contohnya, ketika sedang nongkrong bersama di satu tempat makan dan duduk melingkar di satu meja sembari menunggu makanan datang, mereka justru tidak saling ngobrol tetapi asyik sendiri ber-BBM ria bersama seseorang yang sesungguhnya berada nun jauh disana.

Akibat kondisi kerja (mungkin juga karena gengsi) maka satu-persatu teman kerjanya mulai mengganti telepon genggam lamanya dengan BlackBerry. Alhasil sekarang hanya tersisa segelintir orang yang tidak memiliki BlackBerry, termasuk kekasih saya. Hingga kerapkali ia juga diledeki teman-temannya. Saya tahu ledekan itu hanya bercanda, tapi saya pikir telah begitu keterlaluan ketika seseorang diledek terus menerus hanya karena tidak memiliki produk-produk yang up-to-date. Bukannya saya membela kekasih saya, tapi apakah kamu tidak merasa bahwa segala macam kekisruhan akibat tuntutan gaya hidup ini semakin tidak masuk akal?

Inilah apa yang disebut Karl Marx sebagai fetisisme komoditi, dimana benda, benda dan benda menjadi semacam ‘berhala’ baru bagi masyarakat, ia telah menjelma menjadi candu atau sesuatu-yang-suci-yang-tak-boleh-disepelekan.

**********

"While I am still of flesh and blood and can still discover and connect to my passions and dreams, I am sure that I am not a Machine, I am a human being."
— Mia X. Kursions

Tak dapat disanggah bahwa teknologi mampu menghadirkan sejuta kemudahan yang sebelumnya mungkin tak pernah terbayangkan. Kadangkala saya sendiri pun juga merasa kerepotan ketika harus mengerjakan aktivitas tanpa bantuan perangkat-perangkat elektronik. Teknologi ibarat ‘tuhan’ baru bagi umat manusia. Instrumen teknologi yang kita nikmati sekarang ini memang mempermudah banyak pekerjaan. Tapi di satu sisi, kita juga tak dapat mengelak dari eksternalitas negatif yang menyertainya, seperti bagaimana ia justru sangat berpotensi untuk menyeret manusia menuju alam keterasingan (alienasi), dan melenyapkan aktivitas-aktivitas yang benar-benar nyata tanpa determinasi produk-produk teknologi.

Contoh sederhana saja:

Kita lupa bagaimana capeknya berjalan kaki karena kemana-mana selalu mengendarai mobil atau sepeda motor, kita lupa bagaimana nikmatnya menulis dengan tangan karena telah begitu terbiasa mengetik lewat komputer, kita lupa rasanya cedera akibat bermain bola karena terlalu banyak berkutat di depan gamePro Evolution Soccer“, kita lupa keluar rumah untuk menyapa tetangga dan bermain dengan teman-teman karena malas beranjak dari depan televisi, dan seringkali kita juga lupa bagaimana asyiknya berkenalan kemudian ngobrol langsung dengan orang asing di sekitar kita karena terlalu asyik mengutak-atik telepon genggam untuk sekadar meng-update status atau berbalas wall di Facebook dan menjadi follower para selebritis di Twitter? 

Kita justru sibuk bergaul dengan mesin, bukan sesama kita.

Secara personal tentu saja saya tidak menolak kehadiran dan fungsionalitas teknologi. Bagi saya teknologi memang memberikan banyak manfaat yang sesungguhnya dapat digunakan secara maksimal tanpa perlu mengalami ketergantungan akut terhadapnya. Lagipula bukankah kita juga dapat mengakalinya demi sesuatu yang lebih baik?

Sebagai contoh, internet memang candu yang kuat tetapi juga jangan lupakan bahwa melalui media ini kita dapat mengakses segala macam informasi yang sebelumnya sulit untuk kita jangkau, dan juga jangan remehkan tentang perannya yang sangat vital dalam memperkuat jejaring antar komunitas global. Berapa banyak dari kita yang terinspirasi gelombang protes di Seattle, Praha, Paris, Oaxaca, Vancouver hingga Athena? Jika bukan karena teknologi, bagaimana mungkin kita dapat mendapatkan gambaran tentang semua resistensi itu? Dan tanpa bantuan teknologi, bagaimana mungkin pula resistensi tersebut dapat diinisiasikan kemudian percikan apinya juga meletup di berbagai penjuru dunia?

Namun, peningkatan intensitas komunikasi dan penguatan jejaring pemberontakan tersebut tentunya juga tidak boleh mengecohkan kita dari kenyataan bahwa internet telah memberikan kontribusi masif bagi laju korporasi-korporasi raksasa maupun segelintir kapitalis dan para spekulan di berbagai penjuru dunia.

Menghadapi dualitas tersebut, Ran Prieur, salah seorang kontributor majalah Green Anarchy, menegaskan bahwa sesungguhnya teknologi sama sekali tidak bersifat netral. Yaitu “netral” dalam artian dapat memberikan kebaikan atau keburukan berdasarkan tujuan penggunaannya. Baginya itu adalah sebuah dusta atau penipuan, oleh karenanya ia menganjurkan agar kita mulai belajar memandang lebih jeli untuk memahami bagaimana kesatuan dalam teknologi (industrial) itu sendiri, tak peduli apapun ‘nilai guna’ teknologi tersebut.

Misalnya, ketika kita menganggap bahwa mobil itu ‘netral’ karena dapat memberikan manfaat yang baik maupun buruk maka pandangan kita telah terjebak hanya dalam penggunaan mobil secara normal atau tidak normal (contoh, untuk kejahatan). Kita akan cenderung mengabaikan bahwa sedari awal industri manufaktur mobil telah menggelontorkan limbah-limbah beracun demi pengolahan bahan bakar mobil yang sehari-hari kita pakai ini. Sehingga dalam masa mendatang kita masih akan melihat dampak-dampak buruk tersebut dirasakan oleh anak cucu kita.

Sebenarnya sangat sulit untuk melepaskan diri dari ketergantungan atas teknologi, karena ia telah begitu melekat dalam hidup harian kita. Dan dalam beberapa fakta, alih-alih dihancurkan, produk-produk teknologi juga dapat menyerang eksistensi kapitalisme itu sendiri. Seperti kata Ani Di Franco, setiap alat adalah senjata. Tentu saja jika kita dapat menggunakannya dengan baik dan benar. Bukan kita yang dikendalikan oleh teknologi, tetapi bagaimana kita mengontrol teknologi dan memanfaatkannya sebijak mungkin demi kepentingan kita. Mungkin kita harus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam ruang kreasi kita agar mesin-mesin pengontrol ini dapat disiasati.

**********

Pada akhirnya, karena selalu kerepotan mencari informasi, dan menurutnya juga dapat menghambat pekerjaan maka kekasih saya memutuskan untuk membeli BlackBerry, dan berencana memberikan telepon genggam lamanya untuk sang keponakan. Sebenarnya saya keberatan, toh mana mungkin tak ada alternatif lain tanpa menggunakan BlackBerry. Masih kurang efektifkah sebuah fasilitas telepon dan sms? Tapi ia tetap bersikeras.

Saya menyerah, karena memang bukan saya yang merasakan secara langsung situasi kerja disana. Akhirnya saya cuma berkomentar, “Ya udahlah, terserah kamu aja…

Lalu membatin dan ngedumel dalam hati.

Piramida dan Akar-akar Kekuasaan.

 

"Siapa saja yang masuk ke kancah kekuasaan
harus siap menyentuh najis."
— Anonimus

Kemarin lusa, ketika saya menonton berita di televisi, Adnan Buyung Nasution, yang sedang diwawancarai terkait posisinya sebagai pengacara Gayus Tambunan memberikan komentar bahwa sesungguhnya Gayus telah berusaha bekerjasama untuk membongkar seluruh oknum yang terlibat penggelapan pajak, namun ia justru semakin dikorbankan dan menjadi akal-akalan satgas hukum.

Saya hanya menanggapi dengan tawa yang bernada mengejek.

Menimpali hal ini, salah seorang teman, Ageng, yang kala itu nonton bersama saya, bertanya, “Ada nggak sih, sarjana-sarjana (hukum) yang esok masih idealis?

Saya menyadari mengapa Ageng bertanya seperti itu, dan bukankah itu pula yang menggelisahkan banyak orang. Namun, sedari dulu saya tak pernah yakin terhadap hal tersebut. Lebih baik mencurigai daripada berharap mentah-mentah. Karenanya, saya hanya menimpali lagi dengan candaan, “Kalau mau sedikit idealis, ya jadi penghulu di KUA saja.

Kami berdua hanya tertawa dengan getir.

**********

"Kekayaan tak mampu memuaskan ketamakan, 
sedangkan kekuasaan juga tidak membuat
orang mampu menguasai diri sendiri."
— Severinus Boethius

Sebuah kasus korupsi atau (misalnya) penggelapan pajak harus dipahami sebagai kerja kongkalikong yang selalu melibatkan lebih dari satu orang, mulai dari level yang paling atas, yang mendapatkan jatah paling besar, hingga level-level bawah yang pasti mendapatkan jatah lebih sedikit. Bahkan kasus-kasus kacangan semacam suap menyuap di kelurahan pun pasti ada beberapa tingkatan oknum yang terlibat.

Saya percaya kepada ultimatum Lord Acton yang termasyhur itu, bahwa kekuasaan cenderung bersifat korup, apalagi kekuasaan yang absolut, sudah pasti korup. Sehingga berbicara tentang pemberantasan korupsi maka sekaligus perlu memikirkan tentang penghapusan kekuasaan.

Bayangkan situasi seperti ini:

Si A adalah orang terpandang yang dikenal alim, jujur dan suka berderma, karena itu pula ia juga diberikan amanat untuk duduk sebagai jajaran penting di kursi pemerintahan. Ia tahu bahwa di sekelilingnya, si B, C, D dan anak-anak buahnya telah bertindak korup. Awalnya ia tetap bersikeras untuk menentang aksi korup sejawatnya itu. Tapi apakah itu gampang? Dan jika ia melawan? Apakah itu memungkinkan? Semakin lama ia pasti sadar, bahwa hanya ada tiga pilihan baginya: ikutan korupsi jika ingin tetap bekerja, melawan tapi dimusuhi teman-temannya dengan resiko dikambinghitamkan ketika kasus terungkap, atau keluar dari pekerjaan. Atau pilihan lain? Cari aman saja dengan pura-pura tidak tahu?

********** 

"Batas-batas bagi tiran ditentukan oleh ketahanan
dari orang-orang yang mereka tindas."
— Frederick Douglass

Seorang teman, Esti, yang saya anggap sebagai tipikal perempuan alim yang sederhana, penampilan apa adanya, dan tak terlalu banyak tingkah sekaligus cukup pintar. Pertengahan tahun lalu ia baru saja lulus kuliah dan langsung diterima kerja di salah satu kantor pelayanan pajak. Awalnya teman-teman yang lain melihat bahwa itu adalah keberhasilan yang dicapai Esti. Tetapi seketika ia juga membuat teman-teman keheranan, pasalnya belum satu bulan bekerja ia sudah mengundurkan diri. Apa sebab? Katanya, ia tidak kuat bekerja disana, bukan soal jam kerja atau gaji yang kurang, tapi karena perilaku korup orang-orang di kantornya. Dan itu melibatkan hampir semua pihak. Itulah kenapa ia merasa tertekan dan tidak betah sehingga langsung memutuskan untuk keluar dari lingkungan yang seperti itu. Mungkin ia menyadari bahwa jika tetap bertahan di kantor tersebut maka mau tidak mau esok ia pasti terlibat.

Lalu, bukankah dalam agama atau kepercayaan apapun sebuah tindak korupsi, penggelapan dana atau kecurangan lainnya adalah perbuatan dosa? Tapi nyatanya, sepengetahuan saya dulu Departemen Agama termasuk lembaga pemerintahan yang paling banyak memunculkan kasus korupsi. Betapa ironis.

Faktanya, perilaku korup di lembaga pemerintahan memang telah menjadi rahasia publik, tapi cuma berakhir sebagai gerutuan atau celaan dari masyarakat. Tanpa pernah kita berupaya untuk menyadari bagaimana segala hal ini bisa terjadi dengan begitu mudahnya tapi sulit dituntaskan.

Seberapa sering kamu mendengar keluhan orangtuamu tentang tingkah laku para pejabat yang menyebalkan? Atau justru kamu dan kekasihmu sendiri yang selalu mengomel? Seberapa banyak kasus korupsi yang kamu baca di koran setiap harinya? Seberapa jengkel masyarakat dengan semua ini? Kemudian, sudah berapa kali kita membongkar pasang pejabat birokrat? Berapa kali kita gonta-ganti penguasa?

Adakah perubahan? Jangan menolak jawaban ini: tidak!

Masalahnya bukan sekadar apakah para pejabat itu terdiri dari orang-orang yang alim ataupun serakah. Tapi sumber atas segala carut marut ini adalah kekuasaan itu sendiri. Saya sama sekali takkan memungkiri bahwa banyak pejabat yang sesungguhnya adalah pribadi yang baik, tapi itu takkan berpengaruh apapun semenjak ia bergabung dalam jajaran birokrasi. Dengan segera ia akan terjebak dalam lingkaran jahat yang tak mampu ia lawan, sehingga seperti apa yang saya ceritakan di awal, hanya tersedia sedikit alternatif baginya. Mungkin pilihan terbaik adalah keluar dari pekerjaan. Lalu, mampukah menanggung kebutuhan keluarga di hari esok? Alasan klise tapi gawat: kesejahteraan. Inilah yang ditakutkan banyak orang sehingga membuat kasus korupsi semakin tak terjamah.

Jangan pula berharap pada komitmen serta kecekatan aparat kepolisian dan panitera hukum yang telah kita pahami dengan baik bahwa justru merekalah pihak-pihak yang selalu melanggengkan korupsi dan kejahatan penguasa. Artinya apa?

Seperti yang diungkapkan John Holloway, seorang marxis otonomis, bahwa ada satu konsep kunci dalam sejarah kekuasaan yaitu pengkhianatan. Sebab ‘negara’ sebagai sebuah bentuk organisasi raksasa dapat memisahkan para pemimpin dari rakyatnya, hingga menyeretnya menuju langkah-langkah kooperatif dengan kapital, tunduk di bawah kepentingan para eksekutif-eksekutif korporasi.

Jika kita masih mempertahankan dan menaruh harapan pada sistem hirarkis ini, maka takkan ada nafas perubahan yang berhembus. Sepuluh kali kita memenggal para koruptor tapi seratus kali koruptor lain akan berkembang biak, ribuan kali kita mengganti penguasa maka tidak akan berubah makna, tetap “penguasa”, dan ia pasti menularkan wabah kesengsaraan.

Alkisah, Raja Asoka dari Dinasti Maurya, sang penguasa India pada masa lampau, sempat mengeluhkan bahwa di satu saat ia pernah sangat terusik oleh kekuasaannya sendiri. Kala itu Raja Asoka banyak memperoleh kemenangan hingga hampir seluruh anak benua India, mulai dari daerah Barat Laut hingga seluruh wilayah Teluk Bengali berhasil dikuasainya. Namun lama kelamaan keberadaannya sebagai penguasa serasa digugat, bukan oleh rakyat, tetapi oleh hati nuraninya sendiri. Ia merasa bahwa kekuasaan adalah sumber dari segala kekerasan yang telah ia lakukan, sekaligus akar dari kekejian dan pertikaian antar sesama.

Jadi, belum cukupkah kita mendapati kenyataan? Tak cukup sekadar mereformasi para punggawa atau paduka yang bercokol di singgasananya, karena takkan pernah membawa pengaruh yang berarti. Runtuhkan kerajaannya!

Di hadapan kita senantiasa terjulur akar-akar kekuasaan, pembuluh darah bagi penindasan yang perlu kita cabut dan patahkan satu persatu. Dan piramida raksasa yang harus segera dirubuhkan. Karena piramida ini akan menjadi lebih indah jika hanya tersisa dalam puing-puing kehancuran.

Pembeli Itu Bukan Raja, Karena Konsumen yang Baik Adalah Budak.


Lihatlah!
Betapa banyak barang yang diperlukan
orang Athena untuk hidup!
— Socrates

Setengah tahun lagi umur saya menginjak 23 tahun, beberapa tahun telah terlewat untuk menapaki masa kanak-kanak yang penuh dengan kesenangan dan ketidaktahuan akan dunia, dan hampir satu dekade lebih untuk memahami tentang bagaimana dunia ini berjalan.

Saya terlahir dari keluarga yang berkecukupan dalam hal finansial. Itu artinya, saya adalah anak yang beruntung, karena sedari kecil saya mendapatkan bermacam-macam mainan dan fasilitas dari orang tua, meskipun tentu saja tidak semua keinginan saya mampu mereka penuhi. Tapi saya tetap merasa sebagai anak yang beruntung.

Karena kondisi keluarga yang berkecukupan itulah otomatis saya juga tinggal di sebuah kompleks dimana tetangga dan teman-teman bermainku adalah anak-anak yang sama beruntungnya dengan saya. Begitu pula di lingkungan sekolah, meskipun lebih variatif, tapi mayoritas adalah yang bernasib sama seperti saya. Tak perlu lagi ditanya saat kita sedang berbincang tentang produk-produk baru, tidak kalah ketika bergosip tentang siapa cewek tercantik di sekolah, heboh bukan main, semua berebut saling bicara dan saling mendengar. Demi satu cita-cita: tidak dibilang ketinggalan jaman, gaptek atau kurang gaul!

Lingkungan seperti itulah yang selama ini saya hidupi. Semasa kuliah pun tak ada bedanya, bahkan lebih beringas, sekarang saya merasa dikelilingi oleh “papan-papan iklan berjalan”. Seringkali saya menyingkir ketika teman-teman saya mulai berbincang gadgets versi terbaru seperti BlackBerry atau Android, dan merek-merek sejenis. Bukan munafik, saya memang tidak menolak mentah-mentah teknologi beserta perangkatnya, tapi saya juga sama sekali tidak tertarik dan tidak membutuhkan panduan apapun tentang bagaimana seharusnya kita perlu menjalin komunikasi yang lebih efektif lewat BBM (BlackBerry Messenger) atau jalan pintas jejaring sosial serupa lainnya. Sesekali bermain Facebook saja sudah cukup menguras waktu saya, apalagi jika harus menuruti barang-barang yang tidak memberikan fungsi esensial apapun, selain hanya menguras isi dompet.

Tanpa kita sadari sebenarnya korporasi-korporasi tersebut memiliki agen-agen pemasaran tak resmi dan tak perlu dibayar tetapi mampu menggiring keuntungan besar, yaitu diri kita sendiri sebagai konsumen yang baik dan setia untuk membeli sekaligus berpromosi.

*********

Dibawah rezim kebudayaan kapitalis,
manusia berperilaku seperti narapidana yang mencintai
kerangkengnya karena tidak ada lagi sesuatu hal
yang bisa dicintai."
— Theodore Adorno

Wira, salah seorang teman kuliah saya, adalah anak yang cukup kaya. Dan sesungguhnya ia adalah teman yang baik, karena selama ini ia tidak pernah bermasalah denganku. Tapi memang ada satu hal yang cukup mengganggu, selain ia memang agak perhitungan, teman-temanku lainnya juga sering sekali menceritakan bahwa Wira adalah anak yang tidak mau kalah dalam soal perang gengsi, terutama menyangkut kepemilikan atas produk-produk elektronik.

Suatu ketika, Yanu, teman kuliah saya lainnya, membeli laptop Acer baru yang sama persis dengan milik Wira. Selang beberapa hari kemudian, ternyata Wira sudah membeli laptop baru dengan merek yang sama tetapi memiliki spesifikasi yang jauh lebih unggul daripada sebelumnya. Sayabenar-benar dibuat geleng kepala, teman-teman pun menyahuti agar aku tak usah heran, mereka memberitahu bahwa tabiat Wira memang demikian, ia tidak suka memiliki barang yang sama atau barang yang lebih rendahan dari teman-temannya. Karena bukan sekali ini saja terjadi, ternyata dia juga pernah langsung ‘tidak terima’ dan bergegas membeli telepon genggam baru karena mengetahui teman yang lain memiliki telepon genggam baru yang lebih canggih daripada miliknya.

Saya benar-benar tidak habis pikir melihat tingkah polah semacam ini. Tapi kenyataannya masyarakat kita memang seperti ini, bukan perilaku yang langka. Kita hidup di dunia dimana perlombaan menumpuk barang-barang (bermerek) tidak boleh kalah dengan ikhtiar menumpuk pahala, bahkan terlihat lebih gencar. Dan nampaknya kita bahagia menjalani itu semua.

Tunggu, benarkah kita bahagia? Akankah kita puas?

**********

Hidup begitu membosankan, tak ada yang dapat dilakukan selain membelanjakan seluruh upah kita untuk membeli rok ataupun kemeja keluaran terakhir. Saudara-saudari, apa yang menjadi hasrat kalian yang sesungguhnya? Duduk di dalam apotik, memandang di kejauhan, penuh kekosongan, kebosanan, minum beberapa cangkir kopi yang terasa hambar? Atau mungkin menyerangnya atau membakarnya hingga musnah!
— The Angry Brigade

Pola konsumsi modern memang tidak dapat dibandingkan dengan pola konsumsi pada masa lampau. Sebelum masa Revolusi Industri, orang-orang pada umumnya hanya memiliki satu atau beberapa potong pakaian sebagai cadangan, atau apabila ia cukup sejahtera, juga memiliki segelintir pakaian yang dapat digunakan untuk acara tertentu. Dan jumlah barang-barang yang dimiliki oleh sebuah keluarga yang bukan dari golongan elit mungkin dapat dihitung dengan jari. Sedikit sekali, itupun disesuaikan dengan kebutuhan mereka sehari-hari.

Lalu, di masa sekarang? Tahukah kata apa yang dipakai orang-orang untuk menyebut gaya hidup semacam itu? 

Kemiskinan. 

Ironis memang, tapi seperti itulah realitanya. Saat ini pola konsumsi menjadi lebih kompleks, ia bukanlah sekadar upaya untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam rangka bertahan hidup, tapi lebih dari itu, ia menawarkan nilai atau imaji-imaji yang membuat orang mendapatkan sesuatu lebih dari sekadar ‘obyek’ yang dikonsumsinya. Sederhananya, ketika kita membeli mobil mewah maka secara otomatis kita juga akan mendapatkan bonus berupa prestise atau pengakuan dari masyarakat bahwa kita adalah golongan berpunya atau orang yang sukses, dan dengan segera akan memikat banyak orang lalu membuat mereka iri. Sehingga dapat dikatakan bahwa obyek-obyek yang kita beli tersebut sebenarnya juga berfungsi sebagai ‘alat’ untuk memperkuat status sosial.

Bagi kelas-kelas masyarakat yang memiliki daya beli tinggi, mungkin konsumsi artinya membeli sesuatu yang tidak memiliki esensi, jauh dari nilai guna. Inilah hasrat dan kegairahan yang kita hidupi.

Opini Jean Baudrillard nampaknya memang tepat. Bahwa sekarang ini kita bukan membeli ‘barang’ melainkan ‘simbol (tanda)’. Karena itu segala perilaku konsumsi mulai kehilangan makna akibat keganasan proses konsumsi itu sendiri yang selalu memaksa kita untuk terus membeli, membeli dan membeli.

Kita rela mengantri dan membayar mahal demi sebuah gengsi. Dan kita rela merogoh kocek lebih dalam demi barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan.

Ruang Kerja adalah Penjara tanpa Terali Besi.


"Dalam hati, aku membenci uang, dan aku tak ingin memikirkannya lagi.
Lucunya, setengah dari waktuku digunakan untuk
 
mencari cara bagaimana membuang uangku."
— Svante Tidholm, Surplus

Di akhir masa kuliah saya ini, seringkali saya mengenang betapa menyenangkan ketika teman-teman sebaya saya masih banyak yang berkuliah. Begitu banyak momen menggembirakan, mudah sekali untuk berkunjung ke kota-kota dimana teman-temanku berada, bisa menginap kapan saja dan dimana saja. Begitu pula sebaliknya, hampir tiap minggu rumah kontrakan saya pun selalu disinggahi mereka, entah itu untuk sekadar mampir, bermain atau mengunjungi kekasihnya yang kebetulan berada di Malang.


Sama halnya ketika saya berkunjung ke Surabaya, dimana kekasih saya berkuliah. Saya selalu merasakan momen-momen yang berbeda, seperti terbebas dari segala beban. Karena disana aku hanya bermain, jalan-jalan, pacaran lalu menghabiskan malam bersama teman-teman, sekadar kumpul di kos atau nongkrong sambil ngopi di pinggir jalan. Sama sekali tidak terpikir tentang urusan kuliah dan tetek bengek kampus yang menjengkelkan.

Tapi kini semua berbeda.

Saya kehilangan kekasih dan teman-teman saya semenjak mereka memasuki dunia kerja. Momen-momen bersama mereka kini telah luntur. Amat menyedihkan. Terutama karena kekasih saya sekarang bekerja di Jakarta, tepatnya di Trans TV sebagai creative officer. Dengan jarak yang sangat jauh serta jam kerjanya yang begitu gila, rasanya mustahil dunia ini mampu mempertemukan kami dalam momen-momen yang begitu bebas dan leluasa.

Saya bukannya tak pernah menyadari situasi ini, sudah sejak lama saya memikirkan hal ini, jujur itu membuat resah. Selama ini saya memang sedikit santai ketika mengerjakan skripsi justru di saat teman-teman mulai terlihat sibuk dan saling berkejaran untuk lulus tepat waktu, antara 3,5–4 tahun. Saya memulai skripsi di bulan Mei, dalam ekspektasi saya, jika bekerja dengan optimal maka skripsi dapat saya selesaikan dalam waktu 4 bulan, tapi nyatanya saya baru menyelesaikan skripsi dalam tempo lebih dari setengah tahun (sesungguhnya pun tidak terlalu molor), itupun harus segera saya tamatkan karena bulan depan sudah menginjak semester baru dan rasanya sangat tidak manusiawi jika saya harus meminta lagi uang kuliah pada bapak. Kasihan mereka, toh adik-adik saya juga masih menuntut biaya sekolah yang tidak murah.

Satu hal yang kini sering saya rasakan dan agak membuat jengah adalah perubahan pola pikir teman-teman yang sudah bekerja. Setiap kali bertemu, pembicaraan mereka menjadi semakin membosankan, karena jika bukan keluhan-keluhan soal betapa melelahkannya pekerjaan mereka maka saya akan mendengar tentang segala macam ‘banyolan’ soal ide-ide bisnis macam apa yang paling mudah dan cepat untuk menghasilkan keuntungan.

Pembicaraan mereka selalu berkutat soal kerja, gaji, kerja, gaji dan sebangsanya. Jujur saja, saya merasa tidak nyaman dengan semua ini. Seolah-olah hidup kita hanya berkutat di antara lingkaran itu saja. Tapi toh hanya tinggal menunggu waktu, saya juga akan dijebloskan ke dalam ‘penjara’ yang sama.

**********

Masyarakat melihat bahwa ini adalah siklus yang normal, mereka selalu memaklumatkan bahwa memang seperti inilah realita hidup. Selepas sekolah kamu harus menghidupi diri sendiri, karena itu mau tidak mau kamu harus bekerja. Dan dalam dunia kerja kita akan selalu dituntut untuk berpikir lalu bertindak dengan cepat, tanpa henti. Bagai roda-roda mesin yang harus terus berputar kencang demi kelancaran alur produksi.

Sesungguhnya bukan sekadar masalah malas atau rajin, tapi kerja itu sendiri. Karena nyatanya sepulang menggadaikan waktu dari bekerja kita justru tak bisa beraktivitas apa-apa. Seperti yang dikatakan oleh Christophe Dejours bahwa manusia dikondisikan untuk memiliki perilaku produktif dalam organisasi kerja; dan di luar pabrik, ia tetap mempertahankan kulit dan kepala yang sama. Pola pikir kita memang sungguh telah teracuni dunia kerja, dan tentu saja itu juga mempengaruhi pola hidup kita. Bahkan lebih parah, rutinitas ini secara perlahan membuat kita semakin asing dengan esensi kehidupan.

Beberapa teman saya yang berasal dari keluarga mapan mulai memikirkan untuk berwirausaha. Ada yang mencoba berinovasi dengan berjualan bubur kentang, ada yang membuka distro kecil-kecilan bahkan menginvestasikan sejumlah besar uang untuk beternak ayam maupun lele.

Mengapa mereka terpikirkan solusi semacam itu? Mereka ingin kaya tanpa perlu menjadi budak orang lain? Mungkin salah satunya. Ada banyak alasan tentunya.

Di samping itu, setiap pekerja sesungguhnya menyadari bahwa ruang kerja adalah penjara. Karena kerja upahan atau kerja yang dipaksakan kepada kita untuk mengikuti arus kompetisi pasar adalah sesuatu yang menyebalkan. Dan sebagaimana penjara dalam arti sebenarnya, kita tidak dapat melakukan apapun yang ingin kita lakukan. Para bos-bos kita ibarat sipir penjara yang selalu mengawasi gerak-gerik kita dengan sangat ketat. Apabila kita membangkang, maka dalam sekejap kita akan mendapatkan ganjaran keras. Lalu, di bawah kondisi semacam ini siapakah yang tidak ingin melarikan diri?

Memang benar bahwa masih ada orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dan bayaran sesuai hobi. Tapi berapa banyak mereka yang beruntung seperti itu? Iya, saya bilang beruntung, karena mitos bahwa kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan adalah omong kosong besar.

Belum lagi para jutawan seperti kaum selebritas, bos-bos korporat atau orang-orang kaya baru yang berhasil mengguritakan gerai-gerai bisnisnya di berbagai kota. Orang-orang seperti itulah yang selalu dijejalkan ke dalam otak kita sebagai contoh sukses manusia modern. Hingga akhirnya kita menjadi tergelitik lalu terperangkap dalam lingkaran kompetisi. Tentu saja definisi “sukses” ini adalah nilai universal yang disepakati masyarakat.

Dan lagi-lagi, dunia kerja akan selalu siap memeluk kita.

**********

"Kita membutuhkan sebuah revolusi harapan.
Dan untuk itu, kita membutuhkan pengertian bagaimana mengubah
 
kerja-kerja dan bagaimana menghitung kejayaan kita."
— Rebecca Sonit

Seorang anarkis, Bob Black, menganjurkan untuk penghapusan dunia kerja (baca: kerja upahan). Karena baginya kerja merupakan sumber dari hampir seluruh kesengsaraan di dunia ini. Dan nyaris segala kebusukan tercipta akibat dunia ini dirancang untuk proses bekerja. Oleh karenanya, untuk menghentikan penderitaan maka kita harus berhenti bekerja.


Dalam beberapa poin saya menyetujui argumentasi Bob Black, tetapi itupun masih terdengar sangat sulit untuk direalisasikan, terutama di Indonesia yang notabene adalah negara Dunia Ketiga. Sungguh tidak mungkin disamaratakan dengan kondisi mereka yang hidup di Amerika Utara atau negara-negara adidaya lainnya yang memperoleh pemasukan dari hasil keringat dan darah para pekerja Dunia Ketiga sehingga dapat memperkuat kas negara untuk membiayai tunjangan-tunjangan sosial. Sehingga kondisi hidupnya juga sangat berbeda. Bahkan sang primitivis, John Zerzan, kabarnya selama bertahun-tahun ia dapat membiayai hidup sehari-hari hanya dengan mendonorkan darahnya, entah berapa jumlah uang yang ia dapatkan. Tapi yang jelas, itu adalah sesuatu yang mustahil di Indonesia. Disini, seorang pengangguran adalah sampah masyarakat. Alih-alih tunjangan, yang ada justru menjadi bulan-bulanan cemooh masyarakat.

Suka tidak suka, kita harus tetap berpura-pura bahagia dalam sistem perbudakan legal yang menamakan dirinya kerja. Dan jika kamu tidak dilahirkan dari rahim orang kaya, maka ikhlaskan dirimu untuk menjadi budak seumur hidup. Karena hari ini, kerja berarti kerja upahan untuk menghasilkan komoditi maksimum demi penumpukan profit (nilai-tukar). Bukan kerja kreatif yang dikumandangkan Karl Marx yang bermakna aktivitas manusia dalam rangka menciptakan nilai-guna dan bersifat kualitatif.

Semua itu memperlihatkan bahwa kita telah terjebak makin jauh dalam lingkaran akumulasi kapital. Sulit sekali menemukan alternatif yang tidak bermuara pada keterpaksaan.

Kita ingin berwirausaha demi perubahan nasib yang lebih baik? Mungkin saja. Tapi bagaimana jika kita mengalami kebangkrutan atau terdesak karena kebutuhan-kebutuhan yang sangat menguras finansial? Belum lagi jika dihadapkan pada tagihan-tagihan yang menumpuk? Untuk anak ingusan seusia saya saja sudah mulai tercecer beberapa tagihan disana sini, apalagi mereka yang sudah menjadi perpanjangan tangan keluarganya?

Terpaksa kita harus kembali menjadi budak bagi orang lain.

Atau jika kita telah sukses menjalankan bisnis wirausaha, dan berhasil menggapai impian untuk merubah nasib tanpa perlu bekerja kepada orang lain. Lalu bagaimana agar semuanya dapat bertahan seiring dengan perkembangan mode konsumsi? Bukankah itu berarti juga selalu menuntut agar kita menggenjot produksi dan menghisap tenaga orang lain? Saya tidak tertarik, saya memang belum menemukan alternatif apapun yang mampu menopang hidup saya selain bekerja. Daripada menjadi bos besar, saya lebih memilih menjadi budak orang lain. Setidaknya demi hidup mandiri, lepas dari tunjangan orang tua.

Pada akhirnya, semakin hari deklarasi Bob Black tentang abolisi kerja nampak semakin terlalu tinggi untuk saya rengkuh, meskipun sesungguhnya saya juga memendam mimpi yang sama.

Mak Pon.

 

Selama masyarakat terbentuk oleh uang,
kita tidak pernah merasa cukup akan hal itu.
— Selebaran saat Pemogokan Paris 1995

Sosoknya sudah sangat renta, saya taksir umurnya di atas 75 tahun, namun ia tetap cekatan ketika mengiris dan mengolah isi serta mengulek bumbu rujak. Ia tinggal tidak jauh dari kontrakan saya, hanya butuh waktu 2 menit untuk berjalan kaki.

Para tetangga memanggilnya Mak Pon.

Saya tidak terlalu tahu tentang keluarganya, karena biasanya di dalam rumahnya juga sepi. Hanya kadangkala ada anak muda yang menyablon di salah satu sudut rumah. Ya, sepertinya ada satu ruangan khusus untuk tempat sablon. Rumahnya sangat sederhana, tipikal rumah jaman dahulu, dan jelas tidak pernah terjamah renovasi. Di samping rumah, terdapat ruangan berukuran 2x3 meter yang terbuat dari gedek (tembok bambu) yang sudah usang, disanalah ia bekerja sehari-hari.

Sudah lebih dari 3 tahun ini saya selalu membeli rujak disana, selain dekat, tak ada lagi alasan krusial bagi mahasiswa rantau seperti saya selain: harga! Cukup dengan 3000 rupiah saya bisa mendapatkan sebungkus rujak dengan porsi yang sangat mengenyangkan. Itu harga sekarang, tahun lalu bahkan hanya 2500 rupiah.

Jika diamati, lingkungan tempat saya tinggal ini sebenarnya terdiri dari beragam kalangan, beberapa ada yang terlihat sederhana (bukan miskin), tapi beberapa juga nampak begitu mewah. Sehingga bagi saya agak aneh kalau Mak Pon hanya menjual rujaknya dengan harga segitu, memang disini adalah lingkungan kos mahasiswa sehingga praktis banyak makanan murah, tapi pun saya tidak pernah menemukan rujak hanya seharga 3000 rupiah, paling murah adalah 4000 rupiah. Bahkan di saat sekarang dimana harga cabe sedang membumbung tidak karuan, Mak Pon tetap meladeni ketika saya minta 5 biji untuk diulek. Padahal di warung-warung lainnya begitu irit untuk memberikan sambal. Beberapa warung gorengan malah tidak menyediakan cabe, hanya petis.

Di warung kecilnya, Mak Pon juga menjual beberapa buah dan gorengan. Dan berapa harganya? Untuk setandan pisang ijo cuma 3000 rupiah, dan satu biji gorengan cuma 250 rupiah!

Bayangkan, dengan harga segitu, berapa banyak akumulasi labanya?

Sampai sekarang saya benar-benar tidak habis pikir. Mungkin memang benar, kata seorang teman saya, bahwa biasanya orang-orang seperti Mak Pon cuma butuh perputaran modal (dan sedikit sekali laba) untuk berjualan lagi esok harinya. Agak miris juga sebenarnya, dengan harga-harga kebutuhan yang semakin meroket dan tempat tinggal yang sudah reyot seperti itu, Mak Pon tetap berjualan makanan dengan standar harga layaknya 3 atau 4 tahun ke belakang.

Padahal jelas, bahwa dari segi ekonomi ia miskin!
Warung Mak Pon kerapkali juga didatangi oleh tetangga-tetangganya untuk sekadar cangkruk, baik ibu-ibu yang ‘seangkatan’ dengannya atau yang lebih muda. Suatu ketika saya pernah membeli rujak saat ada sekelompok ibu-ibu sedang ngerumpi di sana. Dan salah satu dari ibu itu nyeletuk,

Oalah mak sampeyan iki piye, mosok gorengan mek 250-an, gak kemurahen ta?
(Oalah ibu ini gimana, gorengan koq cuma seharga 250, apa tidak terlalu murah?)

Mak Pon menoleh sekilas, tersenyum lebar. Lalu kembali mengulek rujak.

Kolase Semesta: Berkah, Spiritualitas dan Petaka


Civilization is a youth with a molotov cocktail in his hand.
Culture is the Soviet tank or L.A. cop that guns him down.

— Edward Abbey

Baraka.

Terdengar asing bagi saya, entah bahasa ini berasal dari wilayah mana (sepertinya bahasa Arab). Namun, beberapa hari kemudian saya mengetahui bahwa dalam bahasa Indonesia berarti “barokah” atau “berkah”.

Sabtu sore di squat mungil kami, bersama beberapa teman, saya menonton film dokumenter berjudul “Baraka” ini. Sebuah film yang bagus dan cukup memikat. Awalnya terkesan janggal, di lima menit pertama saya mulai heran, mengapa sama sekali tak ada tulisan ataupun dialog, lewat sepuluh menit tetap tidak ada, hingga menit-menit berikutnya saya mulai paham bahwa film ini memang bergaya demikian. Tak ada plot, tak ada aktor, tak ada narasi, yang ada hanyalah sekumpulan footage yang memperlihatkan segala sesuatu di muka bumi ini. Ratusan lokasi sekaligus berbagai macam aktivitas di puluhan negara yang berbeda.

Sedari awal hingga akhir, disuguhkan berbagai macam potret panorama alam yang sangat menggiurkan. Mulai dari pegunungan Himalaya di Nepal, kepulauan Galapagos di Ekuador, air terjun Iguacu di Argentina, Taman Nasional Kakadu di Australia, pulau Maui di Hawaii, hingga Gunung Bromo di Probolinggo. Kemudian lanskap-lanskap tersohor seperti Candi Borobudur di Magetan, Angkor Wat di Kamboja, kuil-kuil pemujaan di Jepang, hingga Piramida Giza di Mesir. Tak luput pula tempat-tempat yang membuat hati agak miris seperti Favela da Rocinha, perkampungan kumuh di Rio de Janeiro, Brasil; lapangan Tiananmen di Beijing yang pernah menjadi arena penembakan massal; Auschwitz, kota bekas kamp konsentrasi Nazi di Polandia; hingga Sonsam Kosal Killing Fields, tempat pembantaian manusia semasa rezim Pol Pot di Kamboja. 

Selain itu, ditampilkan beragam aktivitas dramatis mulai dari ritual agama atau kepercayaan setempat, tarian suku-suku primitif hingga kesemrawutan masyarakat urban.

Semua footage itu saling berkelebatan dengan cepat, berpindah antara satu lokasi ke lokasi lainnya, memang membingungkan karena tidak ada nama atau keterangan apapun. Tapi mungkin inilah yang menjadi tujuan sang pembuat film, kita sengaja dibawa melintasi berbagai belahan dunia untuk mengenali secara jeli setiap esensi yang terekam di antara satu tempat dengan tempat lainnya, atau satu aktivitas dengan aktivitas lainnya. Kemudian mengaitkannya satu sama lain, mungkin akan terjalin sebuah similaritas atau bahkan kontradiksi tajam.

Agar memudahkan pemahaman, saya sendiri lebih suka menyederhanakan ratusan footage ini ke dalam tiga kategori makna, yaitu berkah, spiritualitas dan petaka. Berkah untuk menyebut segala macam panorama yang indah nan menakjubkan; spiritualitas untuk menyasar berbagai ritual kepercayaan; dan petaka, tentu saja merupakan sebuah kata yang sangat pas untuk menggambarkan kehidupan masyarakat pasca modernisasi ini, sebab di tengah ‘kemajuan peradaban’ ia justru terlihat tragis dan memilukan.

Sebagian besar fenomena yang disuguhkan memang memukau dan mencengangkan, namun yang paling membuat gusar adalah ketika film ini menelanjangi denyut nadi kehidupan harian masyarakat primitif versus masyarakat modern. Lebih jauh lagi, kedua masyarakat dengan pola hidup yang jauh berbeda tersebut seakan-akan memang sengaja dikomparasikan untuk memberikan penekanan lugas bahwa kehidupan modern adalah ‘kanibalisme’.

Ya. Kehidupan modern adalah kanibalisme.

Betapa tidak, semua terekam begitu gamblang ketika disandingkan dengan potret kehidupan suku-suku primitif di berbagai belahan dunia. Digambarkan tentang kehidupan mereka yang tenang dan tentram dalam sebuah komunalitas dengan populasi tak terlalu besar sehingga nampaknya tercipta pola relasi yang erat diantara sesamanya.

Selanjutnya dikomparasi dengan keseharian masyarakat modern yang semrawut, timpang dan serba tergesa-gesa. Salah satu footage menampilkan seorang biksu yang sedang berjalan lambat di jalanan kota Tokyo sambil menggoyangkan loncengnya setiap satu langkah, sangat kontras dengan orang-orang di sekelilingnya yang berjalan cepat kesana kemari mengejar kepadatan waktu. Lalu buruh-buruh pabrik dengan gerak termekanisasi yang tak ada bedanya dengan mesin-mesin pabrik itu sendiri, para gelandangan yang sedang tertidur pulas di berbagai ‘tempat dan posisi’, kericuhan jalanan kota metropolitan dimana kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, hingga sampai gambaran tentang domestikasi hewan, anak-anak ayam yang dilabeli di pabrik, dipotong paruhnya demi percepatan pertumbuhan, kemudian digelindingkan secara ‘elegan’ dalam alunan mesin pabrik untuk menuju ‘tempat eksekusi’ selanjutnya.

Terselip pesan utama: ganas dan monoton.

Lantas, bukan berarti saya bilang bahwa kehidupan suku primitif itu sempurna, tentu saja tidak ada masyarakat yang hidup tanpa error. Tapi sungguh saya merasa tergelitik sekaligus bergidik ketika memelototi detik demi detik dalam film Baraka ini.

Bukankah kita memang hidup dengan cara demikian?

Kita terkurung dalam satu sangkar raksasa tapi tidak saling menyapa. Kita terasing, padahal kita berada dalam kerumunan besar. Kita berdiam diri, padahal kita tahu bahwa kita sedang dipenjara.

Ataukah kita memang tidak menyadari semua itu?

**********

Don't bother about being modern.
Unfortunately it is the one thing that,
whatever you do, you cannot avoid.
— Salvador Dali

Bagi masyarakat modern, primitif seakan bersinonim dengan tidak ada kemajuan atau stagnansi peradaban. Bahkan kaum adat di Papua yang memakai koteka pun seringkali menjadi bahan lelucon kita. Perang antar suku pun juga dianggap sebagai kebiasaan dan naluri yang barbar, tentu saja “barbar” disini berarti kata sifat yang sangat buruk yang hanya dimiliki kaum-kaum primitif, sesuatu yang memalukan dan harus dienyahkan.

Tapi benarkah seperti itu?

Lalu, apakah masyarakat modern dapat dikatakan lebih manusiawi karena mengalami revolusi di berbagai bidang? Dan kaum primitif lebih liar dan kebinatangan?

Mungkin selama ini kita tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya kita memberikan legitimasi sekaligus juga terlibat ke dalam ‘perang’ yang lebih besar. Saya tidak berkata perang seperti invasi AS ke Iraq, terlalu besar dan siapapun tahu bahwa itu adalah kebiadaban yang bermotif ekonomi. Semenjak globalisasi berhasil mengikat dunia ke dalam satu sangkar raksasa, maka segala produk yang kita beli maupun beberapa hal kecil yang kita lakukan sebenarnya selalu berpotensi mendukung invasi perang semacam itu.

Tidak perlu terlalu jauh, sekarang tengok saja perang-perang yang terjadi dalam keseharianmu, di sekolahmu, kantormu, pabrikmu, atau di jalanan-jalanan kotamu yang seringkali luput dari perhatian karena kita menganggap bahwa semua itu bukanlah perang, tetapi memang suatu bentuk aktivitas yang wajar, alias normal. Padahal setiap hari kita melihat banyak korban-korban berjatuhan, termasuk diri kita sendiri.

Semua perang itu adalah ajang pertarungan di atas arena bernama kompetisi dan akumulasi kapital. Lagi-lagi motif ekonomi demi modernisasi? Bukankah itu sama sekali tidak manusiawi? Lagipula apakah kaum primitif ini hidupnya tidak bahagia, karena kekunoan mereka? Sepertinya tidak. Memang ada beberapa yang mulai terpengaruh modernisasi, namun juga banyak sekali dari mereka yang tetap bertahan bahkan rela berperang demi menjaga martabat dan adat-istiadatnya agar tak terjamah pemerasan modernisasi, yang termanifestasi ke dalam proses industrialisasi serta intensitas teknologi.

Menonton Baraka yang mengomparasikan aktivitas suku-suku primitif dengan kehidupan urban di berbagai belahan dunia inipun membuat saya semakin terguncang, bahwa mungkin sebenarnya justu kitalah yang harus bertanya lagi kepada diri kita sendiri.

Benarkah masyarakat modern ini bahagia?

Kupu Kupu Dalam Terarium.

ah, celaka petaka
kita hidup dalam kotak kaca
 

              terancam buta
              karna mata fisik tak berkedip
              akibat mata jiwa yang lupa
              menelanjangi nasib

ah, sangkar emas
tak kunjung buat kita mengerti

              ajal tak perlu ditunggu
              ia akan menjemput
              lewat tangan tangan malaikat maut
              yang menggerayangi waktu

berbahagialah ia
yang terlahir dengan amarah
dan mati karena menolak terpenjara

Malang. 7 Januari 2011