Ruang Kerja adalah Penjara tanpa Terali Besi.


"Dalam hati, aku membenci uang, dan aku tak ingin memikirkannya lagi.
Lucunya, setengah dari waktuku digunakan untuk
 
mencari cara bagaimana membuang uangku."
— Svante Tidholm, Surplus

Di akhir masa kuliah saya ini, seringkali saya mengenang betapa menyenangkan ketika teman-teman sebaya saya masih banyak yang berkuliah. Begitu banyak momen menggembirakan, mudah sekali untuk berkunjung ke kota-kota dimana teman-temanku berada, bisa menginap kapan saja dan dimana saja. Begitu pula sebaliknya, hampir tiap minggu rumah kontrakan saya pun selalu disinggahi mereka, entah itu untuk sekadar mampir, bermain atau mengunjungi kekasihnya yang kebetulan berada di Malang.


Sama halnya ketika saya berkunjung ke Surabaya, dimana kekasih saya berkuliah. Saya selalu merasakan momen-momen yang berbeda, seperti terbebas dari segala beban. Karena disana aku hanya bermain, jalan-jalan, pacaran lalu menghabiskan malam bersama teman-teman, sekadar kumpul di kos atau nongkrong sambil ngopi di pinggir jalan. Sama sekali tidak terpikir tentang urusan kuliah dan tetek bengek kampus yang menjengkelkan.

Tapi kini semua berbeda.

Saya kehilangan kekasih dan teman-teman saya semenjak mereka memasuki dunia kerja. Momen-momen bersama mereka kini telah luntur. Amat menyedihkan. Terutama karena kekasih saya sekarang bekerja di Jakarta, tepatnya di Trans TV sebagai creative officer. Dengan jarak yang sangat jauh serta jam kerjanya yang begitu gila, rasanya mustahil dunia ini mampu mempertemukan kami dalam momen-momen yang begitu bebas dan leluasa.

Saya bukannya tak pernah menyadari situasi ini, sudah sejak lama saya memikirkan hal ini, jujur itu membuat resah. Selama ini saya memang sedikit santai ketika mengerjakan skripsi justru di saat teman-teman mulai terlihat sibuk dan saling berkejaran untuk lulus tepat waktu, antara 3,5–4 tahun. Saya memulai skripsi di bulan Mei, dalam ekspektasi saya, jika bekerja dengan optimal maka skripsi dapat saya selesaikan dalam waktu 4 bulan, tapi nyatanya saya baru menyelesaikan skripsi dalam tempo lebih dari setengah tahun (sesungguhnya pun tidak terlalu molor), itupun harus segera saya tamatkan karena bulan depan sudah menginjak semester baru dan rasanya sangat tidak manusiawi jika saya harus meminta lagi uang kuliah pada bapak. Kasihan mereka, toh adik-adik saya juga masih menuntut biaya sekolah yang tidak murah.

Satu hal yang kini sering saya rasakan dan agak membuat jengah adalah perubahan pola pikir teman-teman yang sudah bekerja. Setiap kali bertemu, pembicaraan mereka menjadi semakin membosankan, karena jika bukan keluhan-keluhan soal betapa melelahkannya pekerjaan mereka maka saya akan mendengar tentang segala macam ‘banyolan’ soal ide-ide bisnis macam apa yang paling mudah dan cepat untuk menghasilkan keuntungan.

Pembicaraan mereka selalu berkutat soal kerja, gaji, kerja, gaji dan sebangsanya. Jujur saja, saya merasa tidak nyaman dengan semua ini. Seolah-olah hidup kita hanya berkutat di antara lingkaran itu saja. Tapi toh hanya tinggal menunggu waktu, saya juga akan dijebloskan ke dalam ‘penjara’ yang sama.

**********

Masyarakat melihat bahwa ini adalah siklus yang normal, mereka selalu memaklumatkan bahwa memang seperti inilah realita hidup. Selepas sekolah kamu harus menghidupi diri sendiri, karena itu mau tidak mau kamu harus bekerja. Dan dalam dunia kerja kita akan selalu dituntut untuk berpikir lalu bertindak dengan cepat, tanpa henti. Bagai roda-roda mesin yang harus terus berputar kencang demi kelancaran alur produksi.

Sesungguhnya bukan sekadar masalah malas atau rajin, tapi kerja itu sendiri. Karena nyatanya sepulang menggadaikan waktu dari bekerja kita justru tak bisa beraktivitas apa-apa. Seperti yang dikatakan oleh Christophe Dejours bahwa manusia dikondisikan untuk memiliki perilaku produktif dalam organisasi kerja; dan di luar pabrik, ia tetap mempertahankan kulit dan kepala yang sama. Pola pikir kita memang sungguh telah teracuni dunia kerja, dan tentu saja itu juga mempengaruhi pola hidup kita. Bahkan lebih parah, rutinitas ini secara perlahan membuat kita semakin asing dengan esensi kehidupan.

Beberapa teman saya yang berasal dari keluarga mapan mulai memikirkan untuk berwirausaha. Ada yang mencoba berinovasi dengan berjualan bubur kentang, ada yang membuka distro kecil-kecilan bahkan menginvestasikan sejumlah besar uang untuk beternak ayam maupun lele.

Mengapa mereka terpikirkan solusi semacam itu? Mereka ingin kaya tanpa perlu menjadi budak orang lain? Mungkin salah satunya. Ada banyak alasan tentunya.

Di samping itu, setiap pekerja sesungguhnya menyadari bahwa ruang kerja adalah penjara. Karena kerja upahan atau kerja yang dipaksakan kepada kita untuk mengikuti arus kompetisi pasar adalah sesuatu yang menyebalkan. Dan sebagaimana penjara dalam arti sebenarnya, kita tidak dapat melakukan apapun yang ingin kita lakukan. Para bos-bos kita ibarat sipir penjara yang selalu mengawasi gerak-gerik kita dengan sangat ketat. Apabila kita membangkang, maka dalam sekejap kita akan mendapatkan ganjaran keras. Lalu, di bawah kondisi semacam ini siapakah yang tidak ingin melarikan diri?

Memang benar bahwa masih ada orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dan bayaran sesuai hobi. Tapi berapa banyak mereka yang beruntung seperti itu? Iya, saya bilang beruntung, karena mitos bahwa kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan adalah omong kosong besar.

Belum lagi para jutawan seperti kaum selebritas, bos-bos korporat atau orang-orang kaya baru yang berhasil mengguritakan gerai-gerai bisnisnya di berbagai kota. Orang-orang seperti itulah yang selalu dijejalkan ke dalam otak kita sebagai contoh sukses manusia modern. Hingga akhirnya kita menjadi tergelitik lalu terperangkap dalam lingkaran kompetisi. Tentu saja definisi “sukses” ini adalah nilai universal yang disepakati masyarakat.

Dan lagi-lagi, dunia kerja akan selalu siap memeluk kita.

**********

"Kita membutuhkan sebuah revolusi harapan.
Dan untuk itu, kita membutuhkan pengertian bagaimana mengubah
 
kerja-kerja dan bagaimana menghitung kejayaan kita."
— Rebecca Sonit

Seorang anarkis, Bob Black, menganjurkan untuk penghapusan dunia kerja (baca: kerja upahan). Karena baginya kerja merupakan sumber dari hampir seluruh kesengsaraan di dunia ini. Dan nyaris segala kebusukan tercipta akibat dunia ini dirancang untuk proses bekerja. Oleh karenanya, untuk menghentikan penderitaan maka kita harus berhenti bekerja.


Dalam beberapa poin saya menyetujui argumentasi Bob Black, tetapi itupun masih terdengar sangat sulit untuk direalisasikan, terutama di Indonesia yang notabene adalah negara Dunia Ketiga. Sungguh tidak mungkin disamaratakan dengan kondisi mereka yang hidup di Amerika Utara atau negara-negara adidaya lainnya yang memperoleh pemasukan dari hasil keringat dan darah para pekerja Dunia Ketiga sehingga dapat memperkuat kas negara untuk membiayai tunjangan-tunjangan sosial. Sehingga kondisi hidupnya juga sangat berbeda. Bahkan sang primitivis, John Zerzan, kabarnya selama bertahun-tahun ia dapat membiayai hidup sehari-hari hanya dengan mendonorkan darahnya, entah berapa jumlah uang yang ia dapatkan. Tapi yang jelas, itu adalah sesuatu yang mustahil di Indonesia. Disini, seorang pengangguran adalah sampah masyarakat. Alih-alih tunjangan, yang ada justru menjadi bulan-bulanan cemooh masyarakat.

Suka tidak suka, kita harus tetap berpura-pura bahagia dalam sistem perbudakan legal yang menamakan dirinya kerja. Dan jika kamu tidak dilahirkan dari rahim orang kaya, maka ikhlaskan dirimu untuk menjadi budak seumur hidup. Karena hari ini, kerja berarti kerja upahan untuk menghasilkan komoditi maksimum demi penumpukan profit (nilai-tukar). Bukan kerja kreatif yang dikumandangkan Karl Marx yang bermakna aktivitas manusia dalam rangka menciptakan nilai-guna dan bersifat kualitatif.

Semua itu memperlihatkan bahwa kita telah terjebak makin jauh dalam lingkaran akumulasi kapital. Sulit sekali menemukan alternatif yang tidak bermuara pada keterpaksaan.

Kita ingin berwirausaha demi perubahan nasib yang lebih baik? Mungkin saja. Tapi bagaimana jika kita mengalami kebangkrutan atau terdesak karena kebutuhan-kebutuhan yang sangat menguras finansial? Belum lagi jika dihadapkan pada tagihan-tagihan yang menumpuk? Untuk anak ingusan seusia saya saja sudah mulai tercecer beberapa tagihan disana sini, apalagi mereka yang sudah menjadi perpanjangan tangan keluarganya?

Terpaksa kita harus kembali menjadi budak bagi orang lain.

Atau jika kita telah sukses menjalankan bisnis wirausaha, dan berhasil menggapai impian untuk merubah nasib tanpa perlu bekerja kepada orang lain. Lalu bagaimana agar semuanya dapat bertahan seiring dengan perkembangan mode konsumsi? Bukankah itu berarti juga selalu menuntut agar kita menggenjot produksi dan menghisap tenaga orang lain? Saya tidak tertarik, saya memang belum menemukan alternatif apapun yang mampu menopang hidup saya selain bekerja. Daripada menjadi bos besar, saya lebih memilih menjadi budak orang lain. Setidaknya demi hidup mandiri, lepas dari tunjangan orang tua.

Pada akhirnya, semakin hari deklarasi Bob Black tentang abolisi kerja nampak semakin terlalu tinggi untuk saya rengkuh, meskipun sesungguhnya saya juga memendam mimpi yang sama.

Mak Pon.

 

Selama masyarakat terbentuk oleh uang,
kita tidak pernah merasa cukup akan hal itu.
— Selebaran saat Pemogokan Paris 1995

Sosoknya sudah sangat renta, saya taksir umurnya di atas 75 tahun, namun ia tetap cekatan ketika mengiris dan mengolah isi serta mengulek bumbu rujak. Ia tinggal tidak jauh dari kontrakan saya, hanya butuh waktu 2 menit untuk berjalan kaki.

Para tetangga memanggilnya Mak Pon.

Saya tidak terlalu tahu tentang keluarganya, karena biasanya di dalam rumahnya juga sepi. Hanya kadangkala ada anak muda yang menyablon di salah satu sudut rumah. Ya, sepertinya ada satu ruangan khusus untuk tempat sablon. Rumahnya sangat sederhana, tipikal rumah jaman dahulu, dan jelas tidak pernah terjamah renovasi. Di samping rumah, terdapat ruangan berukuran 2x3 meter yang terbuat dari gedek (tembok bambu) yang sudah usang, disanalah ia bekerja sehari-hari.

Sudah lebih dari 3 tahun ini saya selalu membeli rujak disana, selain dekat, tak ada lagi alasan krusial bagi mahasiswa rantau seperti saya selain: harga! Cukup dengan 3000 rupiah saya bisa mendapatkan sebungkus rujak dengan porsi yang sangat mengenyangkan. Itu harga sekarang, tahun lalu bahkan hanya 2500 rupiah.

Jika diamati, lingkungan tempat saya tinggal ini sebenarnya terdiri dari beragam kalangan, beberapa ada yang terlihat sederhana (bukan miskin), tapi beberapa juga nampak begitu mewah. Sehingga bagi saya agak aneh kalau Mak Pon hanya menjual rujaknya dengan harga segitu, memang disini adalah lingkungan kos mahasiswa sehingga praktis banyak makanan murah, tapi pun saya tidak pernah menemukan rujak hanya seharga 3000 rupiah, paling murah adalah 4000 rupiah. Bahkan di saat sekarang dimana harga cabe sedang membumbung tidak karuan, Mak Pon tetap meladeni ketika saya minta 5 biji untuk diulek. Padahal di warung-warung lainnya begitu irit untuk memberikan sambal. Beberapa warung gorengan malah tidak menyediakan cabe, hanya petis.

Di warung kecilnya, Mak Pon juga menjual beberapa buah dan gorengan. Dan berapa harganya? Untuk setandan pisang ijo cuma 3000 rupiah, dan satu biji gorengan cuma 250 rupiah!

Bayangkan, dengan harga segitu, berapa banyak akumulasi labanya?

Sampai sekarang saya benar-benar tidak habis pikir. Mungkin memang benar, kata seorang teman saya, bahwa biasanya orang-orang seperti Mak Pon cuma butuh perputaran modal (dan sedikit sekali laba) untuk berjualan lagi esok harinya. Agak miris juga sebenarnya, dengan harga-harga kebutuhan yang semakin meroket dan tempat tinggal yang sudah reyot seperti itu, Mak Pon tetap berjualan makanan dengan standar harga layaknya 3 atau 4 tahun ke belakang.

Padahal jelas, bahwa dari segi ekonomi ia miskin!
Warung Mak Pon kerapkali juga didatangi oleh tetangga-tetangganya untuk sekadar cangkruk, baik ibu-ibu yang ‘seangkatan’ dengannya atau yang lebih muda. Suatu ketika saya pernah membeli rujak saat ada sekelompok ibu-ibu sedang ngerumpi di sana. Dan salah satu dari ibu itu nyeletuk,

Oalah mak sampeyan iki piye, mosok gorengan mek 250-an, gak kemurahen ta?
(Oalah ibu ini gimana, gorengan koq cuma seharga 250, apa tidak terlalu murah?)

Mak Pon menoleh sekilas, tersenyum lebar. Lalu kembali mengulek rujak.

Kolase Semesta: Berkah, Spiritualitas dan Petaka


Civilization is a youth with a molotov cocktail in his hand.
Culture is the Soviet tank or L.A. cop that guns him down.

— Edward Abbey

Baraka.

Terdengar asing bagi saya, entah bahasa ini berasal dari wilayah mana (sepertinya bahasa Arab). Namun, beberapa hari kemudian saya mengetahui bahwa dalam bahasa Indonesia berarti “barokah” atau “berkah”.

Sabtu sore di squat mungil kami, bersama beberapa teman, saya menonton film dokumenter berjudul “Baraka” ini. Sebuah film yang bagus dan cukup memikat. Awalnya terkesan janggal, di lima menit pertama saya mulai heran, mengapa sama sekali tak ada tulisan ataupun dialog, lewat sepuluh menit tetap tidak ada, hingga menit-menit berikutnya saya mulai paham bahwa film ini memang bergaya demikian. Tak ada plot, tak ada aktor, tak ada narasi, yang ada hanyalah sekumpulan footage yang memperlihatkan segala sesuatu di muka bumi ini. Ratusan lokasi sekaligus berbagai macam aktivitas di puluhan negara yang berbeda.

Sedari awal hingga akhir, disuguhkan berbagai macam potret panorama alam yang sangat menggiurkan. Mulai dari pegunungan Himalaya di Nepal, kepulauan Galapagos di Ekuador, air terjun Iguacu di Argentina, Taman Nasional Kakadu di Australia, pulau Maui di Hawaii, hingga Gunung Bromo di Probolinggo. Kemudian lanskap-lanskap tersohor seperti Candi Borobudur di Magetan, Angkor Wat di Kamboja, kuil-kuil pemujaan di Jepang, hingga Piramida Giza di Mesir. Tak luput pula tempat-tempat yang membuat hati agak miris seperti Favela da Rocinha, perkampungan kumuh di Rio de Janeiro, Brasil; lapangan Tiananmen di Beijing yang pernah menjadi arena penembakan massal; Auschwitz, kota bekas kamp konsentrasi Nazi di Polandia; hingga Sonsam Kosal Killing Fields, tempat pembantaian manusia semasa rezim Pol Pot di Kamboja. 

Selain itu, ditampilkan beragam aktivitas dramatis mulai dari ritual agama atau kepercayaan setempat, tarian suku-suku primitif hingga kesemrawutan masyarakat urban.

Semua footage itu saling berkelebatan dengan cepat, berpindah antara satu lokasi ke lokasi lainnya, memang membingungkan karena tidak ada nama atau keterangan apapun. Tapi mungkin inilah yang menjadi tujuan sang pembuat film, kita sengaja dibawa melintasi berbagai belahan dunia untuk mengenali secara jeli setiap esensi yang terekam di antara satu tempat dengan tempat lainnya, atau satu aktivitas dengan aktivitas lainnya. Kemudian mengaitkannya satu sama lain, mungkin akan terjalin sebuah similaritas atau bahkan kontradiksi tajam.

Agar memudahkan pemahaman, saya sendiri lebih suka menyederhanakan ratusan footage ini ke dalam tiga kategori makna, yaitu berkah, spiritualitas dan petaka. Berkah untuk menyebut segala macam panorama yang indah nan menakjubkan; spiritualitas untuk menyasar berbagai ritual kepercayaan; dan petaka, tentu saja merupakan sebuah kata yang sangat pas untuk menggambarkan kehidupan masyarakat pasca modernisasi ini, sebab di tengah ‘kemajuan peradaban’ ia justru terlihat tragis dan memilukan.

Sebagian besar fenomena yang disuguhkan memang memukau dan mencengangkan, namun yang paling membuat gusar adalah ketika film ini menelanjangi denyut nadi kehidupan harian masyarakat primitif versus masyarakat modern. Lebih jauh lagi, kedua masyarakat dengan pola hidup yang jauh berbeda tersebut seakan-akan memang sengaja dikomparasikan untuk memberikan penekanan lugas bahwa kehidupan modern adalah ‘kanibalisme’.

Ya. Kehidupan modern adalah kanibalisme.

Betapa tidak, semua terekam begitu gamblang ketika disandingkan dengan potret kehidupan suku-suku primitif di berbagai belahan dunia. Digambarkan tentang kehidupan mereka yang tenang dan tentram dalam sebuah komunalitas dengan populasi tak terlalu besar sehingga nampaknya tercipta pola relasi yang erat diantara sesamanya.

Selanjutnya dikomparasi dengan keseharian masyarakat modern yang semrawut, timpang dan serba tergesa-gesa. Salah satu footage menampilkan seorang biksu yang sedang berjalan lambat di jalanan kota Tokyo sambil menggoyangkan loncengnya setiap satu langkah, sangat kontras dengan orang-orang di sekelilingnya yang berjalan cepat kesana kemari mengejar kepadatan waktu. Lalu buruh-buruh pabrik dengan gerak termekanisasi yang tak ada bedanya dengan mesin-mesin pabrik itu sendiri, para gelandangan yang sedang tertidur pulas di berbagai ‘tempat dan posisi’, kericuhan jalanan kota metropolitan dimana kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, hingga sampai gambaran tentang domestikasi hewan, anak-anak ayam yang dilabeli di pabrik, dipotong paruhnya demi percepatan pertumbuhan, kemudian digelindingkan secara ‘elegan’ dalam alunan mesin pabrik untuk menuju ‘tempat eksekusi’ selanjutnya.

Terselip pesan utama: ganas dan monoton.

Lantas, bukan berarti saya bilang bahwa kehidupan suku primitif itu sempurna, tentu saja tidak ada masyarakat yang hidup tanpa error. Tapi sungguh saya merasa tergelitik sekaligus bergidik ketika memelototi detik demi detik dalam film Baraka ini.

Bukankah kita memang hidup dengan cara demikian?

Kita terkurung dalam satu sangkar raksasa tapi tidak saling menyapa. Kita terasing, padahal kita berada dalam kerumunan besar. Kita berdiam diri, padahal kita tahu bahwa kita sedang dipenjara.

Ataukah kita memang tidak menyadari semua itu?

**********

Don't bother about being modern.
Unfortunately it is the one thing that,
whatever you do, you cannot avoid.
— Salvador Dali

Bagi masyarakat modern, primitif seakan bersinonim dengan tidak ada kemajuan atau stagnansi peradaban. Bahkan kaum adat di Papua yang memakai koteka pun seringkali menjadi bahan lelucon kita. Perang antar suku pun juga dianggap sebagai kebiasaan dan naluri yang barbar, tentu saja “barbar” disini berarti kata sifat yang sangat buruk yang hanya dimiliki kaum-kaum primitif, sesuatu yang memalukan dan harus dienyahkan.

Tapi benarkah seperti itu?

Lalu, apakah masyarakat modern dapat dikatakan lebih manusiawi karena mengalami revolusi di berbagai bidang? Dan kaum primitif lebih liar dan kebinatangan?

Mungkin selama ini kita tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya kita memberikan legitimasi sekaligus juga terlibat ke dalam ‘perang’ yang lebih besar. Saya tidak berkata perang seperti invasi AS ke Iraq, terlalu besar dan siapapun tahu bahwa itu adalah kebiadaban yang bermotif ekonomi. Semenjak globalisasi berhasil mengikat dunia ke dalam satu sangkar raksasa, maka segala produk yang kita beli maupun beberapa hal kecil yang kita lakukan sebenarnya selalu berpotensi mendukung invasi perang semacam itu.

Tidak perlu terlalu jauh, sekarang tengok saja perang-perang yang terjadi dalam keseharianmu, di sekolahmu, kantormu, pabrikmu, atau di jalanan-jalanan kotamu yang seringkali luput dari perhatian karena kita menganggap bahwa semua itu bukanlah perang, tetapi memang suatu bentuk aktivitas yang wajar, alias normal. Padahal setiap hari kita melihat banyak korban-korban berjatuhan, termasuk diri kita sendiri.

Semua perang itu adalah ajang pertarungan di atas arena bernama kompetisi dan akumulasi kapital. Lagi-lagi motif ekonomi demi modernisasi? Bukankah itu sama sekali tidak manusiawi? Lagipula apakah kaum primitif ini hidupnya tidak bahagia, karena kekunoan mereka? Sepertinya tidak. Memang ada beberapa yang mulai terpengaruh modernisasi, namun juga banyak sekali dari mereka yang tetap bertahan bahkan rela berperang demi menjaga martabat dan adat-istiadatnya agar tak terjamah pemerasan modernisasi, yang termanifestasi ke dalam proses industrialisasi serta intensitas teknologi.

Menonton Baraka yang mengomparasikan aktivitas suku-suku primitif dengan kehidupan urban di berbagai belahan dunia inipun membuat saya semakin terguncang, bahwa mungkin sebenarnya justu kitalah yang harus bertanya lagi kepada diri kita sendiri.

Benarkah masyarakat modern ini bahagia?

Kupu Kupu Dalam Terarium.

ah, celaka petaka
kita hidup dalam kotak kaca
 

              terancam buta
              karna mata fisik tak berkedip
              akibat mata jiwa yang lupa
              menelanjangi nasib

ah, sangkar emas
tak kunjung buat kita mengerti

              ajal tak perlu ditunggu
              ia akan menjemput
              lewat tangan tangan malaikat maut
              yang menggerayangi waktu

berbahagialah ia
yang terlahir dengan amarah
dan mati karena menolak terpenjara

Malang. 7 Januari 2011

Kabaret Malam.

ada sepasang mata yang mengintip pada celah pintu rembulan
ia memekik dengan sekuat hati:
 

              "dimana kalian hai prajurit langit
              turunlah ke hadapanku
             
aku ingin menantangmu berkelahi!"

terbaring di sudut trotoar dengan selimut aspal dan debu jalanan
merintih seonggok tubuh yang menggigil kedinginan:

              "aku adalah manusia terbuang
              bukan karena doaku yang tak menghunjam semesta
             
tapi karena aku hidup di tengah serigala serigala kelaparan!"

gerombolan boneka menggelar perayaan hasrat di ruang dansa mewah
berangkulan mesra sembari berbagi ekstase:

              "dunia ini sungguh indah
              terkutuklah kalian yang mengejek peradaban
             
kami menolak untuk mati muda!"

sengatan tajam parfum murahan sedang menggelora
di antara ancaman desah para penjaja selangkangan:

              "untuk apa cecaran dakwahmu
              dipikirnya dada kami tak pernah memberontak
             
bunuh saja diri kalian para moralis!"

dan ribuan lainnya
ribuan demonstran ribuan titisan setan
yang berbagi tanah
untuk mementaskan kabaret malam

takkan berdiam diri
jangan harap apapun
inilah panggung sandiwara abadi!

              aku tersentak,
              mulai memahami kengerian ini
              usai senja memasung tubuhnya di dalam lubang hitam
              penghuni piramida itu takkan sudi berhenti bersahutan
              takkan pernah lelah apalagi menyerah
              untuk mengusik lelapku bahkan siap membungkam
              distorsi menderu dari jeritan kotak musik bututku
              hingga memaksa napasku untuk tidak terpejam:

              "malam ini aku kembali dihantui mimpi
              oleh mereka yang bertarung melawan buasnya waktu
              dan yang membangun surga palsu di atas tetesan darah!"


Malang. 4 Januari 2011

Subversi Gender.

              untuk setiap cewek yang lelah
              berpura pura lemah padahal ia kuat,
              ada seorang cowok yang lelah
              berpura pura kuat ketika ia merasa lemah

untuk setiap cowok yang terbebani
karena selalu diharapkan untuk mengetahui segalanya,
ada seorang cewek yang kesal
dengan orang yang selalu meragukan kecerdasannya

              untuk setiap cewek yang lelah
              karena selalu dianggap terlalu sensitif,
              ada seorang cowok yang takut
              menjadi lembut karena menangis

untuk setiap cowok dimana persaingan adalah
satu satunya cara untuk membuktikan kemaskulinannya,
ada seorang cewek yang disebut tidak feminim
ketika ia ikut bersaing

              untuk setiap cewek yang membuang
              peralatan memasaknya,
              ada seorang cowok yang berharap
              akan memilikinya

untuk setiap cowok yang tidak membiarkan
iklan mendikte keinginannya,
ada seorang cewek yang menghadapi
serangan industri periklanan yang merendahkan harga dirinya

              untuk setiap cewek yang melangkah maju
              demi pembebasannya,
              ada seorang cowok yang menemukan jalan
              menuju kebebasannya sedikit lebih mudah

* diadaptasi dari puisi karya Nancy R. Smith

Telapak Kaki Bernyawa.

kita berjalan lurus tanpa lagi banyak bertanya
tentang tangis atau sepi
mungkin kita telah terkikis lelah
karena kita adalah mesin di ketiak para raja
 

              kita tak pernah lagi tertawa
              atau berbagi keringat dengan tetangga sebelah
              entah diserang bosan
              atau hasrat tak lagi menawarkan kesenangan

ada apa dengan cinta?
ada apa dengan bumi manusia?

              di tengah kering Sahara
              di neraka Palestina yang porak poranda
              di surga Las Vegas yang bertabur permata
              ataupun di tanah sendiri tempatku merapatkan jemari

jika aku mati lalu reinkarnasi
aku ingin memijak bumi dengan telapak kaki
yang lebih bernyawa 


Malang.3 Januari 2011

Oh Korporasi, Kau Rebut Kekasihku!

-- dengan cinta dan rindu yang mengepal,
hari ini aku merangkai pedih hati yang sepekat aspal

 
              di ibukota
              tanah kuasa yang katanya bikin sejahtera
              disana aku menitipkan rasa yang begitu megah
              aku yakin, pasti mengalahkan angkuhmu
              sebab kau takkan tahu
              betapa mahal arti kebersamaan
              dan kesenangan
              daripada kultur yang memuakkan
              bernama : kerja dan kekayaan!

bagiku kau rimba petaka
muak aku melihatmu
dengan peluh yang membanjir
beserta kepalsuan yang begitu anyir
belum lagi
gedung gedung sombongmu
dan ribuan penguasa jalan
yang mengerat di balik keringat
para gelandangan dan kaum urban
di tanah berpangkat
demi sebuah alasan :

              "perut ini tidak dapat jatah dari malaikat,
              karena itu, mau tidak mau,
              kami harus jilat pantat!"

aku tak berdaya
aku susah mendengkur
karena tiap malamku selalu basah
dengan linang air mata
dan juga kenangan yang berebut
memainkan petasan romantika
hingga kerapkali aku terbangun
dan sejenak berharap pada sang penguasa :

              "oh, bila kau sungguh bernyawa,
              tolong kembalikan bidadariku
              jangan biarkan ia
              terlalu lama menggauli dunia
              bersama kemunafikan mereka"
 
di ibukota
dimana ia melempar jala harapan
di satu korporasi
yang memanipulasi negeri ini
dengan ratusan
pemikat imitasi selebriti
yang terpampang tiap kali
kau nyalakan satu kotak ajaib
bernama : televisi!

              maka :
              raih tenar dan prestasi!
              tunjukkan mimpi!
              melalui bakat dan imaji!
   
              tapi (aku membatin) :
              awas tertipu
              karena mereka cuma membuatmu
              jadi lumbung uang saku

mungkin kali ini,
aku cuma bisa pasrah
dan mengutuki jarak yang membunuh
tiap kali rindu ini butuh
pelukan hangat dan isyarat tubuh
untuk mencinta
bertukar senyum manja
juga umpat amarah dan gelak tawa

              karena di ibukota
              aku tinggalkan pelangiku
              sudah dua bulan berlalu
              dan kini,
              ia lebih sibuk bercinta
              denganmu
              daripada diriku

sungguh aku tak pernah rela
selama ini
aku hanya diam
dan mencoba mengalah

entah,
aku tak tahu sampai kapan
kegilaan ini berakhir
untuk detik ini saja
aku menyerah kalah padamu

tapi ingat,
jangan kau sangka
aku akan tetap membeku
ini semua sungguh terpaksa
aku takkan membiarkanmu
menyelingkuhinya lebih lama!

              oh korporasi,
              setelah darah para serdadu
              bapak bapak yang tak lagi memeluk rindu
              karena ibu ibu yang sibuk mengejar harga susu
              kini kau begitu licik berperan sebagi penipu
              hingga anak anak muda terpaksa melacur padamu

              dan sekarang kau,
              rebut kekasihku!

              oh korporasi,
              sungguh jalang dirimu!

Malang. 21 November 2010

Menyuarakan Diam.

tak perlu lagi tertunduk lesu
atau duduk membisu
dalam lelap yang terlampau palsu

sudah cukup sudah
langit yang kita junjung telah lama menyerah
entah kita yang salah arah
atau para paduka yang tak sudi mengalah
segala persetubuhan ini, salah kaprah!

biarlah
jangan terlalu lama mati langkah

karena waktu tak akan berdiam diri
dan acapkali bosan jika menunggu mentari
apalagi berharap pada kuasa yang tak patut diyakini

              sempatkah kau tanya,

              kapan lagi menggenggam dendam?
              kapan lagi menyentil dosa?
              kapan lagi berhitung mimpi?

              lekatkan jari jemari
              periksa kembali semua sudut nurani

              adakah rasa yang tertinggal?
              atau ketakutan yang tak dikenal?

Gresik. 18 November 2010

Salam Kenal.

kau kira, siapa kami?
walau beda posisi
pun beragam persepsi

toh, selama ini kita saling mengisi
walau kerapkali beradu hati

datang lalu pergi kembali atau tak lagi
tapi kita semua takkan pernah lupa
untuk saling berbagi

tapi, kami juga ingin lebih
manusiawi

dan memahami
bahwa hidup bukan cuma
sekedar bertukar tawa

tapi sekaligus
mencintai tragedi

pekik mereka :
amor fati!

              salam kenal!
              ku jabat erat tanganmu kembali

              jangan khawatir, kawan
              kita takkan lupa
              bermain dan
              bersenang senang

              karena benar juga,
              apa yang dikata Emma Goldman :
              revolusi itu serupa bunuh diri
              dan bukan milik kami
              jika tidak menyediakan ruang
              untuk menari nari!

              ayo kemari
              duduk melingkar bersama kami
              menenggak kopi
              sambil menyeduh mimpi

* respon untuk sepenggal sms dari seorang teman,
ia yang mengeluh merasa jenuh dengan konspirasi,
tingkah laku dunia ini, dan juga kesehariannya
yang kerap terbelenggu, membuatnya selalu ingin pergi
dan melupakan semua kesialan ini


Malang. 13 November 2010