Perangkap Ironi.


"There are no classes in life for beginners: 
right away you are always asked to deal with what is most difficult."
— Rainer Maria Rilke

Sabtu sore kemarin, Alfiah, salah seorang teman lama saya menelpon, ia bermaksud menawarkan sedikit bantuan sekaligus mengeluhkan beberapa hal. 


Dari cerita teman saya yang lainnya, sesungguhnya saya telah mengetahui bahwa Alfiah kini bekerja di salah satu bank dengan jabatan yang cukup mumpuni, namun ia mendapatkan jatah penempatan yang sangat jauh yaitu Pare-pare, Sulawesi Selatan. Dan sore itu ia bermaksud memenuhi janjinya pada saya tempo dulu. 

Sekitar tahun 2008 lalu, saya memang pernah menceritakan padanya bahwa saya kenal dengan beberapa teman yang aktif bergiat dalam pemberdayaan korban lumpur Lapindo, dan saat itu mereka sedang membutuhkan banyak bantuan untuk mengembangkan perpustakaan,  realisasi workshop, publikasi dan aktivitas-aktivitas lainnya. Setelah mendengar cerita saya, ia pun sempat mengutarakan ingin memberikan donasi, tapi karena pada waktu itu ia masih kuliah (belum punya penghasilan tetap) maka rencana itu tidak sempat terlaksana hingga hari ini. 

Namun, sungguh kebetulan bahwa di saat saya dan teman-teman di Malang sedikit gelisah memikirkan dana untuk membiayai proyek-proyek kecil kami, ternyata Alfiah bersedia memberikan donasi, sama sekali tak kusangka, ia muncul di momen yang tepat. 

Setelah mendengarkan cerita sekilas tentang aktivitas saya bersama teman-teman, ia langsung mengeluhkan banyak hal. Tentang kejenuhannya disana, jauh dari keluarga, tidak ada hiburan dan tidak ada aktivitas selain kerja. Sehingga ia sempat pergi ke Makassar dan langsung memborong 9 buah novel sekaligus demi membunuh kebosanan. Tapi yang agak membuat saya meringis adalah ketika ia mengeluh tentang urusan lelaki, alias kekasih. 

Kenalin aku sama temen-temenmu dong, serius aku bener-bener udah ngebet nikah nih sekarang, tapi sama sekali gak ada kenalan. Lha gimana lagi, tiap hari berangkat pagi pulang malem.

**********

"You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You will never live if you are looking for the meaning of life."
— Albert Camus

Beberapa hari sebelumnya, saya sempat berkunjung ke rumah salah seorang teman, Taufiq. Dan kami membicarakan tentang masalah lowongan pekerjaan, karena kami berdua sama-sama masih menganggur. 


Taufiq bercerita, sewaktu ia mendengarkan presentasi sebelum mengikuti tes di salah satu bank plat merah, salah seorang pembicara menceritakan bahwa bank ini memiliki jam kerja yang paling panjang dibandingkan bank-bank lainnya, bahkan pelatihannya saja diadakan setiap hari Senin-Sabtu, tak jarang hingga larut malam. 

Cukup membuat para peserta tes tertekan. 

Menanggapi kekagetan itu, salah seorang pegawai lainnya, Mbak Duma, karyawan di bagian Human Capital, yang notabene adalah bawahan pembicara tersebut meyakinkan kepada para peserta bahwa dengan jam kerja seperti itu imbalan yang kelak diperoleh tentu saja akan maksimal. Dan agar para calon pegawai ini menjadi lebih yakin, ia pun menandaskan: no pain, no gain. 

Cukup membuat Taufiq tergoda. 

Namun, selanjutnya justru menjadi ironis. Sang atasan Mbak Duma pun membenarkan perkataannya, lalu ia mengisahkan, 

Iya bener lho, bahkan Mbak Duma ini kerjanya dari Senin-Minggu. Sampai-sampai dulu Mbak Duma juga sempet tanya ke saya: kapan ya bu saya punya pacar?

Mayday is Not (Holy) Day, Just Do It (Every) Day!


"When will they awaken to the truth? 
When will they finally have enough and spit on their masters?
 When will they rise up with one voice and say NO!? 
The answer my friends, is never."
— Patrick K. Martin

Beberapa hari lalu, saya bersama teman-teman menyempatkan diri untuk berkumpul di Kedai Sinau, agenda utama siang itu ialah membahas persiapan acara (pemutaran film, musik akustik, FNB, pameran dan beberapa workshop) atas nama kolektif kami yang baru saja terbangun beberapa bulan ke belakang. Rapat tersebut berlangsung sangat cepat, selebihnya adalah berdebat tentang judul acara dan bercanda. Lalu, diakhiri dengan makan bakso sembari menikmati hujan sore dan pulang ke rumah masing-masing. 


Di antara berbagai hal tidak serius yang kami perbincangkan, sempat ada satu topik serius yang kami bicarakan sekilas, tentang Mayday dan kesadaran pekerja (buruh). Salah seorang teman, Kucing, yang sempat menjadi partisipan LMND semasa mahasiswa dulu bercerita tentang pengalamannya ketika melakukan long march untuk memperingati May Day bersama para buruh di Malang, yang tentu saja dipimpin oleh organ-organ Kiri. Setelah berkeliling di jalanan kota maka aktivitas finalnya adalah berhenti kemudian jagongan di satu tempat yang telah dipadati gerobak makanan. Dan tentu saja pesta hari itu benar-benar tidak memberikan makna apa-apa bagi para peserta aksi, ya karena bagi mereka Mayday hanyalah sekadar momentum perayaan dalam satu hari. Selanjutnya pulang ke rumah masing-masing, karena esok pagi harus kembali bekerja seperti biasanya, dan menabung yang rajin untuk berbelanja seperti biasanya. 

Seusai Kucing bercerita, Aswin nyeletuk, mengapa para pekerja ini tidak menyadari betapa krusialnya posisi mereka, dan betapa mereka telah begitu tertindas. 

Saya pun mengajukan pernyataan, “Kalau mereka merasa bahwa tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka, lantas apa yang harus disadari? Tidak ada. Kecuali mungkin di saat-saat mereka dihadapkan pada ancaman pemecatan kerja. 

Untuk menggambarkan secara sempurna bagaimana keadaan ini, maka saya mengutip eksplanasi panjang Morpheus kepada Neo saat menguraikan tentang dunia Matrix (yang dalam bahasa Indonesia dapat diibaratkan sebagai dunia maya atau ilusi): 

Matrix adalah sistem, Neo. Sistem itulah musuh kita. Namun ketika kau ada di dalamnya, pandangi sekelilingmu, apa yang kau lihat? Pengusaha, guru, pengacara, tukang kayu. Benak orang-orang yang coba kita selamatkan itu sendiri. Namun sebelum kita berhasil, orang-orang ini masih menjadi bagian dari sistem dan itulah yang menjadikan mereka musuh kita. Kau harus paham, kebanyakan orang tidak siap untuk dicabut. Dan banyak di antara mereka yang begitu betah, begitu mati-matian bergantung pada sistem, bahkan sampai mereka rela berjuang untuk melindunginya. 

Atau dengan gambaran yang lebih kasar, bisa jadi para buruh sebenarnya menyukai kapitalisme. Benarkah? 

Jika dirunut ke belakang, maka rumusan Morpheus (yang berangkat dari tesis Jean Baudrillard dalam bukunya “Simulacra and Simulation”) ini dapat dilacak melalui pemikiran Guy Debord, sang ‘pemimpin’ gerombolan Situasionis International yang menjadi salah satu pemicu Pemberontakan Paris 1968. Ia memaparkan dengan njelimet bahwa segala segi kehidupan manusia telah dikurung ke dalam satu kerangka yang disebut spectacle atau Dunia Tontonan. Dimana “tontonan” ini menyajikan ‘ilusi-ilusi’ tentang hidup sehingga pada akhirnya mampu membuat masyarakat terus terlelap dan tidak mampu terbangun dari ‘mimpi buruk’ tersebut. 

Dunia Tontonan, inilah dunia dimana pasar mengontrol eksistensi kita. Entah itu melalui televisi, radio, komputer, atau bentuk-bentuk teknologi lainnya. Segala yang kita lihat tidaklah nyata, sebuah dunia yang memaksa kita untuk tetap setia ‘menonton’, diam dan tunduk terhadap komoditas-komoditas yang dijejalkan ke hadapan kita terus menerus. Seperti para pria yang hanya merasa macho ketika berhasil memiliki perut six pack, atau para wanita yang hanya merasa cantik ketika telah memakai kosmetik atau tas-tas bermerek keluaran terbaru. Jadi janganlah heran kenapa banyak bermunculan sepatu Nike atau tas Louis Vuitton palsu, tentu saja diperuntukkan bagi mereka yang ingin terlihat kaya dan keren tapi tidak punya uang! 

Dalam bentuk yang lain, seorang pemuda yang ingin sekali jago bermain skateboard tapi sekali pun tidak pernah menyentuh papan skateboard selain hanya memainkan ‘kenyataan’ dalam dunia game “Tony Hawk: Pro Skater”. Ia akan menghabiskan waktunya dengan sebuah aktivitas pasif, yang berarti non-aktivitas. 

Atau iklan-iklan yang telah mendunia seperti: Hei belilah kaos bergambar Che Guevara, makanlah sayur-sayuran organik dan koleksilah buku-buku Karl Marx jika kamu ingin terlihat sebagai pemberontak revolusioner! 

Imaji-imaji tersebut ditampilkan sebagai sesuatu yang harus kita raih demi mendapatkan kesenangan, kebahagiaan atau nilai-nilai ideal. Padahal faktanya, justru hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang esensial bagi hidup kita. Untuk melepaskan diri dari “dunia ilusi” tersebut maka kita perlu mengenali diri sendiri dan mimpi-mimpi kita sekaligus mewaspadai serta memberikan filter terhadap segala macam hal yang hadir di hadapan indera manusiawi kita.

**********

To call on people to give up their illusions about their condition is to call on them to give up a condition that requires illusions."
— Karl Marx

Kapitalisme telah berhasil membentuk bangsa pekerja yang tak menyukai pekerjaan mereka, dan yang selalu berharap bahwa ‘tanggal merah’ akan lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, selama mereka mendapatkan gaji yang layak untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan maka apa perlunya mereka marah pada sistem yang menghidupinya ini? 

Di lain pihak, mereka yang merasa ‘tercerahkan’ dan memiliki hasrat untuk menawarkan perspektif alternatif bagi orang lain (atau angkat senjata seperti Morpheus, Neo, Trinity dan kawan-kawannya) maka secara otomatis akan berdiri berseberangan dengan ‘masyarakat umum’. Atau yang biasa dicemooh oleh kaum counter-culture sebagai “massa”, alias para domba tersesat yang perlu dibimbing oleh sistem untuk menuju kebahagiaan hidup. 

Artinya, perlukah menjadi vanguard atau pemimpin bagi massa agar dapat mengatur dan memupuk kesadaran orang-orang tersebut? Menjadi hero bagi mereka? 

Tidak, jelas kita tidak perlu merepetisi momen-momen seperti yang dialami Kucing beberapa tahun ke belakang. Sudah terbukti bahwa aksi semacam itu tak ada gunanya semenjak massa hanya dimanfaatkan demi kepentingan segelintir orang (seperti halnya Pemilu sebagai ilusi demokrasi). Kekuatan besar akan lahir jika setiap orang menyadari kekuatannya sendiri hingga mampu melihat jeruji-jeruji yang melingkari hidup hariannya. Seperti halnya aksi para Piqueteros ketika menjarah pertokoan, mengambilalih pusat-pusat produksi kemudian mendistribusikan makanan ke berbagai tempat kala Pemberontakan Argentina 2001. 

Atau bayangkan betapa menakjubkan jika suatu saat para pekerja berani berkata seperti Tyler Durden dan rekan-rekannya ketika menyekap sang bos: 

"The people you are after are the people you depend on.
We cook your meals.
We haul your trash.
We connect your calls.
We drive your ambulances.
We guard you while you sleep.
 Do not fuck with us!"

    Catat!
Sesungguhnya Mayday bukanlah ‘hari buruh’ atau hanya milik mereka
yang terkungkung dalam tembok-tembok pabrik. Mayday adalah hari perjuangan
bagi seluruh proletariat, yaitu kita semua yang tidak memiliki kendali penuh
atas hidup kita akibat dominasi kapital, mulai dari para pelajar, pengangguran,
petani, majikan kerah putih hingga ibu-ibu rumah tangga yang tak dapat
beranjak dari dapur karena beban moral terhadap suami dan anak. 
Hari ini, semua orang adalah Neo!

“Earth Hour”: Kampanye “Green Capitalism” Paling Populer Hari Ini


We are the super species on Earth
but also the biggest trouble makers.
— Dalai Lama

We’re so self-important. So self-important. Everybody’s going to save something now. ‘Save the trees, save the bees, save the whales, save those snails. And the greatest arrogance of all: save the planet. What? Are these fucking people kidding me? Save the planet, we don’t even know how to take care of ourselves yet. We haven’t learned how to care for one another, we’re gonna save the fucking planet?
— George Carlin, Saving the Planet

“Ini aksiku, mana aksimu?”
“Tunjukkan aksimu di Earth Hour 2012!”


Beberapa minggu belakangan slogan kampanye yang awalnya dideklarasikan WWF Australia itu banyak tersebar di media massa, menjelang 31 Maret 2012 masyarakat di berbagai belahan negara dibombardir iklan tersebut demi kelancaran sebuah kegiatan ‘mematikan listrik selama satu jam setiap satu tahun’ yang diklaim sebagai aksi kepedulian terbesar dalam sejarah guna mencegah perubahan iklim global.

Sedikit saya ceritakan, World Wildlife Fund (WWF) adalah sebuah organisasi lingkungan yang disponsori Walmart, Nike, IBM, Bank of America, J.P. Morgan, DuPont, Coca-Cola, HSBC, Citigroup, Ikea, Phillip Morris, dan beberapa lainnya. Tahukah kamu? Korporasi-korporasi raksasa tersebut adalah pihak-pihak yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik bagi masyarakat dunia, sesungguhnya mereka inilah yang menyebabkan ketimpangan sosial dan kesengsaraan di berbagai tempat.

Pada November 2009, lebih dari 80 organisasi lingkungan dunia dari 31 negara sepakat menandatangani petisi untuk mengecam prakarsa WWF yang berjudul “Roundtable on Sustainable Palm Oil”. Petisi tersebut menyatakan bahwa keterlibatan WWF telah ditunggangi oleh korporasi-korporasi perminyakan guna memberikan justifikasi terhadap pembangunan pusat-pusat kilang minyak di Eropa.

Tidakkah kamu merasa aneh dengan aksi berkedok environmentalisme semacam ini? Tentu saja, sebuah penipuan global atas nama globalisasi.
 

Dalam FAQs (Frequently Asked Questions)-nya, WWF mendeskripsikan:
 

“Earth Hour akan mempertontonkan bagaimana dunia mengalami kegelapan selama satu jam. Dimana ratusan juta orang yang berasal dari segala macam ras, agama, budaya, masyarakat, generasi dan geografi, berkomitmen mematikan lampu mereka dalam perayaan global untuk melindungi sesuatu yang menyatukan kita semua—planet.”

Dan pernyataan lanjutan lainnya:

“Earth Hour hanya meminta orang-orang untuk mematikan penerangan yang non-esensial selama satu jam—bukan penerangan yang mempengaruhi keamanan publik. Earth Hour juga merupakan sebuah perayaan dari planet kita, jadi ini penting untuk menikmati momen dimana kita berada dalam sebuah lingkungan yang aman.”

Ada yang janggal, hanya mematikan sumber daya yang tidak esensial? Ya. Oleh karenanya jangan berharap lebih bahwa Earth Hour dapat memberikan dampak yang esensial bagi dunia. Aksi semacam Earth Hour ini ibarat merenovasi rumah yang baru saja roboh diterjang banjir tanpa memperbaiki lalu memperkokoh struktur pondasinya, tentu saja di kemudian hari rumah tersebut akan roboh kembali.

Dan yang lebih menggelikan, WWF menghimbau pada distrik atau kota-kota yang ingin berpartisipasi dalam Earth Hour agar mendaftar terlebih dahulu dalam situsnya, dan pendaftaran ini hanya dapat dilakukan oleh pejabat kota yang berwenang.

Untuk apa semua ini? Agar nampak luar biasa dan heboh?

Apa yang dapat diharapkan dari “festival kegelapan” ini? Apakah kita berpikir bahwa korporasi-korporasi tersebut peduli terhadap planet ini? Apakah mereka benar-benar peduli terhadap masyarakat dunia? Apakah mereka benar-benar peduli terhadap lingkungan? Sementara justru mereka yang selama ini menjadi biang keladi atas segala macam skandal kekejaman, perampasan, kerusakan dan perang sosial dimana-mana?

Saya tidak bilang bahwa aksi semacam ini sama sekali tidak ada gunanya, tentu saja akan ada penghematan. Tetapi sejauh mana efektivitas yang dihasilkan setelah lewat satu jam? Listrik kembali menyala, dan semua warga kembali berpesta! Selain itu, aksi semacam ini tidak akan berarti sama sekali semenjak sistem industrialisasi di dunia ini telah mengeksploitasi habis-habisan segala sumber daya dimanapun, dan menciptakan manipulasi dan kekacauan sepanjang sejarah. Solusi nyata tidak terletak pada keterlibatan korporasi ataupun pemerintah, karena faktanya perkawinan antara keduanya hanya membuahkan regulasi-regulasi yang selama ini menyokong kepentingan politik-ekonomi mereka sendiri dan menghempaskan masyarakat secara telak dalam kondisi ketidakberdayaan.

**********

"The Earth isn’t dying, it’s being killed,
and those who are killing it have names and addresses."
— Utah Philips

Isu-isu lingkungan sekarang ini makin santer diperbincangkan, dan terutama makin laku semenjak Al Gore (mantan wakil Presiden AS) menggebrak dunia melalui film dokumenternya berjudul “An Inconvenient Truth” yang memenangkan banyak penghargaan bergengsi. Isu-isu tersebut memang sangat kompleks, beberapa masalah dapat berhubungan langsung dengan perubahan iklim, tetapi beberapa tidak. Namun, sangat penting bagi kita untuk mengaitkan antar tiap masalah tersebut, karena pada dasarnya semua masalah lingkungan yang kita hadapi sekarang ini disebabkan oleh ekspansi kapital, komodifikasi dan privatisasi. Bukan berarti korporasi tidak menyadari bahwa isu-isu ini dapat mengganggu kelancaran operasi bisnis mereka, namun lebih jauh, mereka justru telah memanfaatkan isu-isu lingkungan ini demi kepentingan mereka sendiri. Sekarang mereka lebih lihai untuk menggunakan retorika-retorika environmentalisme palsu demi kelanjutan siklus produksi dan eksploitasinya. Inilah manifestasi nyata dari peribahasa lama “ada udang di balik batu”.

Satu jam dalam kegelapan untuk menyelamatkan bumi? Ah, sepertinya ada nama yang lebih cocok untuk aksi ini: kapitalisme hijau!

Bagaimana dengan ancaman nyata yang dihadapi sistem ekologi di wilayah sekitar kita sekarang? Bagaimana dengan polusi pabrik yang kita jumpai setiap hari? Bagaimana dengan industri nuklir yang meledak di Chernobyl maupun Fukushima? Bagaimana dengan eksploitasi uranium yang tiada henti di negara-negara Timur Tengah? Bagaimana dengan modifikasi genetika terhadap tumbuhan dan hewan yang berarti merekayasa spesies alami di planet ini? Bagaimana dengan mega-industri seperti Monsanto yang meracuni makanan kita sehari-hari dengan herbisida dan pestisida? Bagaimana dengan perdagangan bebas yang selama ini banyak dipuja ternyata malah mencecerkan limbah dimana-mana, mulai dari luberan minyak di lepas pantai Alaska hingga kubangan lumpur raksasa di Porong?

Jika kamu mau menelaah lebih jeli, sesungguhnya korporasi-korporasi inilah yang berkuasa atas planet yang kita tinggali ini. Bukan negara, presiden, perdana menteri, pemerintah kota ataupun para pemuka agama. Lalu, bersediakah korporasi-korporasi ini terhambat proses bisnisnya?

Tentu saja tidak. Oleh karena itu kita hanya disuruh mematikan listrik selama 1 jam!

Selamat datang dalam kampanya terbesar kapitalisme hijau, sebuah aksi cuci tangan dan cuci otak oleh para korporasi dunia melalui propaganda WWF!

Saya sendiri menjumpai sebuah pemandangan ganjil di Surabaya, di sebuah mall bernama Grand City terdapat billboard besar tentang aksi Earth Hour serta monumen “Save Our Earth” milik WWF, lalu di dalam mall tersebut juga terdapat stan milik WWF. Bagaimana bisa organisasi ini ada disana? Tentu saja hasil dukungan serta sokongan dana yang besar dari korporasi-korporasi yang berpengaruh. Tidakkah masuk akal kegusaran saya ini? Entah di kota lain, apakah ada pemandangan serupa. Ini sangatlah tidak wajar, jika WWF benar-benar berkomitmen terhadap aksi enviromentalisme lalu mengapa mereka memilih untuk menggelar kampanye di tempat dimana setiap harinya terjadi transaksi konsumtif besar-besaran, yang di dalamnya diisi oleh gerai-gerai besar. Dan pusat perbelanjaan? Bukankah sebuah tempat yang banyak menghabiskan energi, terutama listrik.

Jika kenyataannya kamu selalu mengeluh saat PLN melakukan pemadaman bergilir, lalu kenapa sekarang kamu tampak begitu antusias mematikan listrik selama satu jam? Apakah karena aksi Earth Hour sekarang ini begitu ngetren hingga kamu juga ingin nampak keren ketika ikut mempromosikannya? Earth Hour telah diadakan sejak tahun 2007, telat sekali kamu! Lalu apa aksi ini memberikan dampak besar? Sekarang konsumsi listrik di berbagai belahan dunia justru semakin buas!

Meskipun orang-orang akan mendapatkan perasaan positif dan sedikit meningkatkan kesadaran mereka saat mencoba berpartisipasi dalam Earth Hour, namun sesungguhnya kita semua dibuat terlena. Kampanye yang terselenggara atas sponsor korporasi-korporasi perusak lingkungan ini menciptakan harapan palsu, bahwa perubahan iklim global dapat dicegah hanya dengan penghematan listrik.

Saya sama sekali tidak antipati terhadap gerakan penghematan maupun konversi energi, namun cobalah kamu berpikir dan menelaah lebih jeli mulai sekarang. Dunia yang kamu tinggali ini berjalan dalam sebuah sistem yang dikendalikan segelintir penguasa yang mencari keuntungan. Kapitalisme menyebabkan dampak kompleks yang kadang tidak kentara, bahkan kita menganggapnya sebagai sesuatu yang normal, padahal berbahaya. Jika kamu benar-benar ingin memberikan kontribusi terhadap lingkunganmu maka pelajarilah bagaimana kapitalisme dan korporasi bekerja, bagaimana negara dan aparat menjaga kekuasaan, bagaimana hukum dan kontrak sosial diberlakukan. Bagaimana alur eksploitasi alam yang terjadi di daerahmu, dan mengapa sampai sekarang sering terjadi perang sosial dimana-mana, padahal kita mengklaim bahwa peradaban semakin maju. Saya berani jamin, kesimpulan terakhir yang kamu temukan: dunia sedang tidak baik-baik saja!

Untuk menghentikan semua kerusakan ini, serang di tempat yang mematikan!

Jika kamu peduli dengan lingkungan, maka tetap nyalakan listrik di saat Earth Hour nanti atau tahun-tahun berikutnya, jangan mudah termakan kampanye yang kelihatannya baik. Gunakan waktumu untuk membaca lalu diskusi bersama teman-temanmu agar dapat mengasah pemikiran dan analisismu. Lakukan investigasi hingga kamu tidak akan mudah percaya terhadap aksi-aksi environmentalisme palsu yang disebarkan organisasi-organisasi seperti WWF yang pada kenyataannya telah dibajak demi menutupi kebobrokan proses bisnis korporasi-korporasi dunia. Dan ketika kamu memikirkannya lebih jauh maka kamu akan menyadari bahwa partisipasi aktif di lingkungan lokal untuk membangun komunitasmu sendiri akan lebih berarti daripada membuang waktu selama 1 jam untuk berpartisipasi pasif dalam perayaan kegelapan setahun sekali ini.

Percayalah, Earth Hour adalah lelucon menggelikan sebagaimana kita mengharapkan Dinasti Bakrie untuk menyelesaikan kasus lumpur Lapindo, atau menuntut Freeport untuk segera hengkang dari tanah kaum adat Papua. Mengharapkan aksi nyata dari pemerintah dunia beserta korporasi-korporasi yang selama ini berafiliasi dengan mereka untuk meminta maaf lalu menyelesaikan problema-problema yang sesungguhnya hasil perbuatan mereka sendiri tak lebih dari sekadar mimpi di siang bolong!

Dan lagi-lagi guyonan satir George Carlin, standing comedian asal Amerika yang telah meninggal tahun 2008 lalu ini akan membuat kita tertawa miris:


 Besides, there is nothing wrong with the planet. 
Nothing wrong with the planet. 
The PLANET is fine.
The PEOPLE are fucked!


Sumber lain tentang kasus penipuan WWF:
http://www.dw.de/dw/article/1/0,,15255247,00.html


* tulisan ini awalnya saya buat saat menanggapi Earth Hour 2011, dan sekarang telah saya beri sedikit tambahan.

Teringat Sang "Unabomber".

 

Tidak, apa yang mencemaskanku adalah bahwa dalam beberapa hal aku dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan ini dan kemudian merasa nyaman di dalamnya, sehingga tidak lagi marah terhadapnya. Dan yang aku takutkan adalah ketika pada tahun-tahun mendatang di saat aku mungkin lupa, aku mulai kehilangan kenanganku terhadap pegunungan atau hutan-hutan, serta kehilangan rasa kepekaan terhadap alam liar. Tetapi aku takkan takut jika mereka akan mematahkan semangatku.
— Ted Kaczynski

Seminggu belakangan, terjadi tiga kali teror bom buku dalam kurun waktu yang hampir bersamaan hingga mendadak menyita perhatian publik Indonesia. Teror bom buku tersebut dikirim kepada tiga orang yang berbeda, yang pertama adalah Ulil Abshar Abdalla, orang penting Jaringan Islam Liberal. Yang kedua adalah Gories Mere, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN. Dan yang ketiga dikirim pada Japto Soerjosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP). 

Ada satu persamaan dalam tiga bom buku tersebut: stidak mengenai target. 

Akibat peristiwa ini saya jadi teringat dengan ulah ‘sang teroris’ yang dijuluki media massa Amerika dengan nama “Unabomber”. Salah seorang yang pernah menjadi target utama dan menghabiskan biaya investigasi paling mahal dalam sejarah FBI. 

‘Sang teroris’ memiliki nama asli Theodore John Kaczynski (Ted), seorang pakar matematika yang jenius. Di masa sekolah, ia sempat menjalani beberapa akselerasi kelas, dan pada usia 16 tahun ia telah diterima Universitas Harvard. Lalu mendapatkan gelar Ph.D. dari Universitas Michigan dan kemudian menjadi asisten profesor di Universitas California Berkeley pada umur 25 tahun, namun ia mengundurkan diri 2 tahun berikutnya. 

Tahun 1971, saat berumur 29 tahun, Ted pindah ke hutan di kawasan Lincoln, Montana, kemudian membangun sebuah gubuk untuk tempat tinggalnya, hidup sendiri tanpa menggunakan listrik maupun teknologi modern lainnya. 

Ted memutuskan untuk melakukan aksi-aksi kampanye bom setelah melihat alam liar di sekitar lingkungan rumahnya mulai tergerus oleh pembangunan dan eksploitasi industri. Mulai dari 1978 hingga 1995, ia mengirimkan 16 bom kepada berbagai macam target, yaitu orang-orang yang ia anggap sebagai ‘pemicu’, ‘pengembang’ atau ‘pelindung’ industrialisasi, termasuk beberapa profesor teknik, bos korporat, pemilik toko komputer dan penerbangan di Amerika, membuat 3 orang terbunuh dan 23 orang mengalami cedera. Itulah alasan mengapa ia dijuluki Unabomber (University and Airline Bomber) oleh FBI dan media massa sebelum jati dirinya teridentifikasi. Dan informasi atas dirinya pernah dihargai sebesar 1 juta dolar sehingga membuatnya jadi rebutan publik Amerika Serikat. 

Pada 24 April 1995, Ted mengirim surat kepada The New York Times, ia berjanji jika The New York Times ataupun The Washington Post bersedia mempublikasikan manifestonya maka ia akan ‘berhenti dari aksi terorisme’. Bahkan majalah porno Penthouse juga pernah sukarela menawarkan publikasi, namun ditolak mentah-mentah olehnya. Di dalam manifesto yang berjudul “Industrial Society and Its Future” ini Ted berargumen bahwa aksi yang ia lakukan memang ekstrim tetapi itu merupakan taktik yang sangat diperlukan demi menarik perhatian masyarakat atas semakin terkikisnya kebebasan dan otonomi manusia akibat teknologi modern. 

Ironisnya, keberhasilan penangkapan Ted Kaczynski (yang kemudian juga sempat diduga sebagai pembunuh berantai terkenal di Amerika berjuluk “Zodiac Killer”) justru berawal dari saudara laki-lakinya sendiri, David Kaczynski, yang mengenali tulisan tangan Ted dalam manifesto tersebut (setelah dipublikasikan) dan kemudian membantu investigasi FBI. Hingga hari ini, Ted masih mendekam di penjara Colorado dengan keamanan super-maksimum, dihukum seumur hidup tanpa ada kemungkinan bebas dengan jaminan. Sedangkan gubuk yang ia bangun di hutan Montana masih diabadikan di salah satu museum di Amerika Serikat.

**********

Kita semua berada disini, di bumi.
Dan tak ada seorangpun dari kita yang memiliki hak atasnya.
— Benjamin Tucker

Seperti halnya kita pahami, tidak mungkin diingkari bahwa teknologi memang dapat mengistirahatkan manusia dari kerja-kerja berat sehingga kehidupan pun juga dapat menjadi lebih mudah (dalam beberapa hal). Namun persoalan utama yang seringkali luput diperhatikan ialah kapitalisme sebagai sebuah sistem yang sekarang ini merajai dunia memiliki karakteristik yang tak dapat digugat yaitu menuhankan laba. Sehingga perkembangan teknologi perlu digenjot terus menerus demi ekspansi kapital. Kasarnya, teknologi dibutuhkan demi efisiensi, dan kapital dibutuhkan demi pengembangan teknologi, jadi keduanya saling dependen. Artinya, ini berbahaya bagi umat manusia, tetapi sesungguhnya juga mengandung bahaya bagi kapitalisme sendiri, karena jika salah satu dihancurkan maka sistem industrialisasi yang eksploitatif ini juga lebih rentan untuk diruntuhkan. 

Dalam bahasa Herbert Marcuse, teknologi lebih dari sekadar perkakas, melainkan ideologi dan pranata sosial baru yang tumbuh begitu cepat. Contoh paling gamblang dapat kita amati melalui teknologi informasi, yang termanifestasi ke dalam wujud hegemoni media massa. Ia adalah maha-kreator yang cenderung manipulatif, penjaja berita maupun hiburan yang mampu menanamkan nilai-nilai baru yang kemudian banyak disepakati oleh masyarakat sehingga kemudian tercipta lifestyles baru yang non-esensial. Belum lagi jika perkembangan teknologi ini mulai banyak tingkah melalui pola-pola industrial yang semakin memicu kehancuran alam. Secara cepat ia juga mampu membangun ‘penjara-penjara’ psikis bagi manusia. Oleh karena itu, sesungguhnya teknologi berperan aktif sebagai alat doktrin yang sah dalam kerangka kapitalis. 

Berangkat dari titik inilah maka kita dapat memahami apa yang diyakini oleh Ted Kaczynski, ia sendiri juga mengakui bahwa apa yang memotivasinya melakukan aksi pengeboman tersebut pertama-tama bukanlah berasal dari segala macam teori yang mengkritisi sistem industrialisasi dan kebudayaan yang pernah ia baca (seperti karangan Jacques Ellul, Eric Hoffer, Neil Postman ataupun Edward Abbey), namun ketika menyaksikan sendiri saat mesin-mesin industrial tersebut mulai merobek pepohonan dan menghancurkan alam di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. 

Masyarakat industrial-teknologikal takkan dapat direformasi. Jika ingin mengembalikan harga diri serta otonomi manusia sekaligus mempertahankan keberlanjutan ekologi maka sesegera mungkin sistem ini harus dilenyapkan. 

Ataukah kita justru merasakan ‘kebebasan penuh’ di saat kerja-kerja bahkan aktivitas keseharian manusia telah digantikan oleh robot, seperti dalam film “Surrogates”? 

Selain itu, bukankah sungguh mengerikan jika kita harus hidup dalam situasi seperti apa yang diwartakan oleh gerakan Zeitgeist melalui Venus Project-nya, yaitu penataan ulang kehidupan sosial di dalam kerangka teknologi? Artinya para teknokrat ini menyajikan sebuah blue print atas masa depan umat manusia yang dikuasai oleh keberadaan teknologi dalam kerja-kerja keseharian. 

Lalu apa yang harus kita kerjakan?
   
Duduk sepanjang hari mengontrol mesin-mesin? Tergeletak di depan televisi sembari digerayangi alat-alat pijat otomatis? Bermain sepakbola melawan para robot? Atau malah memodifikasi mereka menjadi alat senggama yang tak lelah mendesah? 


Pikirkan jawabannya sembari menonton film “The Matrix”. Karena itu, agaknya tidak berlebihan jika saat ini kita berbisik: 

Panjang umur Theodore…

Anak-anak versus “Monster” Leviathan.


"When I was 5 years old, my mother always told me that happiness was the key to life. When I went to school, they asked me what I wanted to be when I grew up.  I wrote down ‘happy’. They told me I didn’t understand the assignment, and I told them they didn’t understand life."
— John Lennon
   
The creative adult is the child who has survived.
— Ursula K. Le Guin

Semasa anak-anak, saya suka jajan sembarangan. Dulu saya jarang sekali dilarang membelanjakan uang untuk membeli apapun, meskipun tentu saja ada beberapa ‘petuah’ yang tak boleh dilanggar. Saya teringat bagaimana nikmatnya menusuk pentol sembari menyesap segarnya es wawan tiap sepulang sekolah. Tentu saja, setelah beberapa hari tenggorokanku pasti terasa agak serak, tapi toh takkan membuat keracunan. Lain sekarang, sedari berangkat sekolah, anak-anak harus selalu diperingatkan tentang betapa berbahayanya permen-permen yang beredar di pasaran, atau jajanan yang dibuat dari bahan-bahan yang telah kadaluarsa. Bahkan ibu-ibu yang baru saja memomong bayi pun harus ekstra waspada dalam memilih susu formula untuk buah hatinya. 

Ketika anak-anak, saya suka berbicara sendiri saat di kamar mandi, sambil memainkan orang-orangan (berbentuk seperti tokoh-tokoh kartun) dan menciptakan dialog seenak hati, mungkin seperti dalang saat bermain wayang. Jika sudah bosan, maka saya kan keluar rumah dan bermain gundu atau sepakbola, adu umbul, petak umpet, gobak sodor atau lompat karet, bahkan setiap bulan sekali saya bersama teman sekampung pergi ke gunung kapur untuk sekadar memunguti bola-bola kapur yang tercecer kemudian memancing di danau terdekat sembari menonton burung-burung beterbangan di kala senja. Sungguh saya sama sekali belum tahu bagaimana caranya berhadapan dengan komputer, apalagi jika harus selihai anak-anak sekarang yang gemar chatting dan rajin melongok status Justin Bieber di jejaring Twitter. 

Saat ini, semakin hari saya justru semakin sering melihat anak-anak gemar berkhotbah dan bertingkah di layar kaca, mereka berlomba menjadi panutan sebayanya selayaknya parodi orang dewasa yang berebut tiket untuk menjadi idola baru. 

Agaknya, kemajuan pesat yang kita rasakan sekarang membuat setiap orang tua terjebak di ujung tanduk, sedari awal mereka begitu gugup dan tergesa-gesa untuk mempersiapkan buah hatinya menjadi jawara. Atas alasan inilah yang seringkali juga membuatku terheran-heran, apa perlunya si belia yang bahkan baru saja belajar berjalan harus disekolahkan di sebuah lembaga bernama playgroup? Atau anak seusia SD yang harus diikutkan dalam berbagai lembaga bimbingan belajar atau kursus-kursus sepulang sekolah? 

Puluhan alasan digelontorkan, dan semuanya akan mengarah pada satu kesimpulan: setiap anak harus berprestasi dan cepat beradaptasi dengan dunia yang esok ditapakinya. Sehingga artinya juga muncul satu kesimpulan lagi: setiap orang dewasa harus pintar mengarahkan si anak demi kemajuan yang diinginkan. 

Ah, sungguh berat tugas yang mereka emban.

Dan saya kembali teringat, pada usia seperti itu, saya justru bermain kesana-kemari tanpa kenal waktu, mempelajari banyak hal baru tanpa harus terbelenggu ke dalam sebuah institusi atau lembaga. Jika salah biarkan saja itu menjadi kesalahan, tanpa perlu waspada agar selalu melakukan sesuatu yang benar. Tepat kiranya apabila George Santayana pernah mengetengahkan keresahan bahwa anak-anak yang hanya dididik di sekolah sesungguhnya adalah anak-anak yang tak terdidik. 

Seharusnya kita memahami bahwa bermain berarti mengalami ekstase spontanitas. Bermain adalah tahapan untuk memerdekakan kreativitas, bukan malah memenjarakannya. Bermain memiliki esensi yang penuh makna sebagai sebuah upaya untuk menjauhkan diri dari kungkungan dominatif. Di tengah kepungan kapital yang semakin buas dalam mengomodifikasikan waktu dan aktivitas manusia seperti sekarang ini, maka anak-anak harus bebas. Mereka harus bermain atas imajinasi sendiri, bukan kontrol dari impian orang-orang dewasa yang dipenuhi ‘simbol’ atau ‘imaji’ manipulatif hasil rekayasa korporat. 

Karena itu, sesungguhnya bermain bukan merupakan pertanda kemalasan. Bermain bukan merupakan hal yang sepele dan tidak bermanfaat. Justru ia menciptakan produktivitas tersendiri, yang mungkin takkan pernah selaras dengan sudut pandang akumulasi profit. Sebab ia memaksimalkan waktu luang dan melawan belenggu keterasingan. Bermain juga memiliki esensi untuk mengaktualisasikan ekspresi dan hasrat dalam diri individu, yaitu apa yang disebut sebagai kebebasan, kesenangan dan kepuasan. Tak seharusnya anak-anak dilarang bermain, apalagi keluar rumah. 

Namun, semua ini bukannya tanpa hambatan. Masa sekarang adalah sebuah persaingan, perputaran, kompetisi dan pemenuhan artifisial. Sehingga anak-anak harus segera dipelonco agar dapat memasuki dunia baru yang sesungguhnya belum waktunya, sebab bukan pada tempatnya. 

Ernest Hemmingway pernah mengemukakan adanya kekeliruan besar mengenai kebijaksanaan orang tua, sebab sesungguhnya mereka tidaklah bertambah bijaksana, melainkan bertambah hati-hati. Tak heran jika Antoine de Saint-Exupery melalui “The Little Prince”-nya juga berupaya menggugat dan mengadili perilaku orang dewasa yang seakan-akan tampil arif dan mulia di hadapan anak-anak, pasalnya si orang tua merasa telah meluangkan banyak pengorbanan demi kemajuan sang anak. Padahal? Ada banyak kesalahan yang perlu dikoreksi ulang. 

Kapitalisme telah berhasil merasuki setiap sendi keseharian manusia, tak luput anak-anak. Mereka digembalakan oleh selera pasar, orang-orang dewasa yang memiliki pengaruh dan otoritas terhadapnya, para pelaku industri, selebritas, termasuk para pengajar serta orang tua mereka sendiri. Kapitalisme telah menyusup ke dalam banyak rupa, melalui tokoh-tokoh animasi Disney hingga sihir Harry Potter. 

Di dalam Alkitab, ada sebuah istilah yaitu “Leviathan”, digambarkan sebagai sesosok monster laut raksasa. Thomas Hobbes pernah mengilustrasikan Leviathan sebagai fenomena dimana negara menjadi ekspresi terluhur dari kekuatan yang demikian agung. Keduanya menyajikan interpretasi yang begitu menakutkan. Di lain pihak, istilah Leviathan juga dipakai oleh Fredy Perlman untuk menggambarkan “peradaban” (dalam bukunya “Against His-story, Against Leviathan), dalam artian sesuatu yang memiliki kekuatan dahsyat dan cenderung destruktif. 

Jadi, bagaimana jika Leviathan yang kita hadapi sekarang tidak memiliki raut muka yang ganas, alih-alih bertanduk ia malah memiliki rambut yang menawan, alih-alih kejam ia justru tampil dengan sosok lucu nan rupawan dengan sikap bak pahlawan hingga mampu membius kepolosan anak-anak. 

Lalu, bagaimana kita dapat mengenalinya? 

Secepatnya kita harus segera membuka mata, karena sudah semakin jelas bahwa sekarang anak-anak kita ‘dibesarkan’ oleh perusahaan.

— anak-anak, kencangkan sabuk pengaman,
karena perlombaan telah dimulai lebih cepat! 

Seni Telah Mati?


Kahlil Gibran pernah menyiratkan renungan:

Seni orang Mesir adalah dalam ramalan

Seni orang Khaldik adalah dalam perhitungan
Seni orang Yunani adalah dalam perbandingan
Seni orang Romawi adalah dalam gema
Seni orang Cina adalah dalam tata cara
Seni orang Hindu adalah dalam menimbang baik dan buruk
Seni orang Yahudi adalah dalam rasa pesimis
Seni orang Arab adalah dalam pengingatan masa lalu dan pelebih-lebihan
Seni orang Persia adalah dalam kerapian
Seni orang Perancis adalah dalam kecermatan
Seni orang Inggris adalah dalam analisis dan perasaan benar sendiri
Seni orang Spanyol adalah dalam fanatisisme
Seni orang Italia adalah dalam keindahan
Seni orang Jerman adalah dalam ambisi
Seni orang Rusia adalah dalam kesedihan 

Para Dadais mendeklarasikan penghancuran seni karena mereka melihatnya sebagai simbol utama dari kultur borjuis. Namun, mereka juga percaya bahwa seni dapat didefinisikan ulang sebagai sebuah pengalaman yang sepenuhnya di dalam hidup.

Lain daripada itu, kaum Kiri justru mengklaim seni realisme sosialis sebagai sebuah karya yang membawa pesan-pesan pembebasan dan perjuangan rakyat.

Banksy yang dikenal sebagai seorang street artist dengan pesan bernada satir dan menohok pun karya-karyanya telah dibanderol hingga jutaan dolar menjadi jajaran koleksi ‘tidak berguna’ bagi bintang-bintang Hollywood seperti Angelina Jolie.

Sementara itu, para insurgen Pemberontakan Paris 1968 memperingatkan bahwa “seni telah mati, jangan nikmati bangkainya.

Semenjak dahulu, sebuah mahakarya seni memang dapat dihargai setara dengan biaya hidup rakyat Ethiopia dalam satu kampung untuk beberapa bulan. Apalagi jika karya tersebut sudah masuk ruang galeri atau pameran kelas wahid dan mendapatkan pengakuan dari para kurator atau intelektual ternama. Ukiran penis kayu yang ujungnya dicocok peniti karya Made Wianta pun dapat dihargai ratusan juta. Padahal banyak dijual di Bali di emperan-emperan cinderamata seharga 10 hingga 20 ribu rupiah. Atau instalasi toilet karya Marchel Duchamp (yang dinamai “Fountain”) yang begitu digadang-gadangkan sebagai avant-garde. Padahal itu hanya tempat untuk buang hajat yang tersedia dimana-mana.

Ataukah ide telah menjadi begitu mahadaya?

Atau justru orang-orang itu yang membuatnya menjadi nampak begitu berharga?

Sebaliknya, pada saat yang sama, bagiku, mungkin juga kamu, coretan-coretan pada kertas usang pun dapat menjadi sebuah karya seni, walaupun tidak ada seorangpun yang pernah menganggapnya berharga, setidaknya untuk kita nikmati sendiri.

Jadi, sesungguhnya apa itu seni kalau ia telah melebur ke dalam segala ruang, dan mampu menjelma menjadi apa saja?

Shiratal Mustaqim.

awas menjejak langkah
tengok segala arah
jangan sampai terjerembab
dan berguling
di tengah lidah api

yang bernama:
tirani

Malang. 17 Februari 2011

Revolusi.

mencabik ketakutan
menggugah nafas yang terlelap
merangsang langkah untuk berderap
menyingkirkan bisu
sekaligus membanjiri harmoni
dengan tunggal persepsi

Malang. 17 Februari 2011

20 Jam.

 

"What we don't understand we can make mean anything.
— Chuck Palahniuk

I

Sebelum 1 jam pertama…

Saya datang terlalu cepat, hanya ada segelintir orang yang telah menempati kursinya dan saling mengobrol dengan teman sebelahnya. Ada pula satu keluarga, bapak, ibu dan dua anak, yang mulai menata barang bawaan sekaligus bekal mereka selama perjalanan. Akhirnya saya putuskan untuk menggelar koran dan duduk di pinggir pintu masuk sembari memandangi orang-orang yang saling berkelebatan tiada henti.

Setengah jam berlalu, melongok ke tempat duduk saya dan tempat sebelahnya, ternyata masih kosong. Saya tak beranjak dari pintu masuk. Beberapa menit kemudian ada seorang anak muda, sepertinya beberapa tahun lebih tua dari saya, ia menuju depan kursi saya. Saya ingin menghampiri lalu menyapanya namun setelah duduk ia langsung memejamkan mata, mungkin kelelahan. Akhirnya saya kembali nangkring di pintu masuk sembari cari udara segar.

Bocah-bocah mulai hilir mudik menawarkan koran bekas, yang dapat dipakai alas duduk atau kipas-kipas. Bersaing dengan kakak-kakaknya yang jual kipas beneran dengan warna-warna mencolok. Sementara itu, para lelaki dan perempuan pedagang minuman sudah mulai bergerilya di dalam dan saling berebut meneriakkan jurus rayuan.

Banyak orang yang telah berdatangan, saya pun beranjak menuju tempat duduk. Sedikit demi sedikit mulai terisi penuh, dan armada rakyat ini pun melaju.

II

1 jam pertama…

Berkenalan dengan si mas yang duduk di sebelah saya, ia orang Jakarta dan ternyata berniat melancong ke rumah temannya di Singosari, ada urusan bisnis. Kemudian ibu di sebelah ujung yang terpisah dengan suaminya di kursi belakang, katanya ia turun Blitar. Lalu dengan ibu muda yang duduk di depan saya ditemani kerabatnya, ia membawa dua anak kecilnya, ternyata terpisah dengan sang kakek yang duduk di kursi depan. Lumayan jauh juga, turun Semarang. Dan si anak muda di depan saya masih terlelap.

Jam-jam berikutnya…

Setelah berhenti di beberapa tempat, semakin bertambah banyak orang berdatangan. Tentu saja beberapa dari mereka tidak kebagian tempat duduk, dan akhirnya mulai banyak orang yang berdiri berjejalan. Ada satu yang lucu, ada seorang bapak berlogat Jawa Tengah yang baru datang langsung mengomel, “Piyeee seh iki, wong-wong loket ra genah blas ancene, mosok aku ki wes tuku tiket larang-larang tapi tibak’e ra oleh panggon gawe lungguh, eh koq malah disangoni ember cat gawe lemek bokong.” (Gimana sih ini, orang-orang loket memang gak bener, masak saya sudah beli tiket mahal-mahal tapi ternyata tidak kebagian tempat duduk, eh koq malah dibawain ember cat buat alas pantat.)

Saya langsung tertawa, bagaimana tidak, ember cat yang sedari tadi ditenteng-tenteng oleh si bapak ternyata kosong, dan fungsinya justru untuk tempat duduk.

Lalu ada si bapak pelakon Reog Ponorogo, yang awalnya memperoleh tempat duduk namun hanya beberapa jam, akhirnya ia harus terusir karena sang empunya menagih jatah. Apa boleh buat, ia langsung berdiri. Tapi ia tak kenal lelah, sepanjang perjalanan mulutnya tak pernah berhenti menyerocos, kadang sesumbar berlebihan, tetapi kadang juga menggelikan.

Dalam waktu singkat, kedua bapak-bapak yang umurnya pasti sudah berkepala empat ini langsung mengakrabkan diri. Mungkin karena persamaan nasib (tidak kebagian tempat duduk), mereka malah bukan seperti dua orang yang baru kenal, langsung akrab dan saling bercanda satu sama lain, bahkan saling ledek.

Dua orang ini jadi pusat hiburan, keduanya memang sama-sama ceplas ceplos kalau bicara, kalau kata orang Jawa: sak njeplak’e, sak enak udele. Tapi jujur saja, keduanya memang lucu. Dan kelucuannya mulai makin menjadi-jadi ketika ada seorang wanita muda yang baru datang dengan membawa boneka panda besar berwarna pink, ia juga tidak kebagian tempat duduk. Langsung saja, si bapak berlogat Jawa Tengah menyodorkan embernya untuk diduduki, si wanita muda ini pun menerima dengan senang hati.

Dan si bapak lakon langsung meledek, “Woooo, onok pahlawan kesiangan rek, hahaa…” (Woooo, ada pahlawan kesiangan rek, hahaa…)

Si bapak berlogat Jawa Tengah langsung merengut. Tapi ia tak mau kalah, “Yo babahne ta lah, dadi uwong koq usil wae. Mbak’e kan yo sakne lek kudu ngadek suwe. Wong sampeyan yo pasti gelem wae kan lek tak tawani ember iki gawe lungguh…” (Ya biarin lah, jadi orang koq usil saja. Mbak-nya kan ya kasihan kalau harus berdiri lama. Toh bapak juga pasti mau-mau aja kan kalau saya tawari ember ini buat duduk…)

Si bapak lakon menimpali lagi, “Wooo, ati-ati loh mbak, awas ngene iki pasti onok karepe, temenan ati-ati loh mbak sampeyan…” (Wooo, hati-hati loh mbak, pasti gini ini ada maunya, beneran harus hati-hati loh mbak…)

Dan si bapak satunya membalas, “Bah, dadi uwong koq sirik wae.” (Bah, jadi orang koq sirik aja.)

Si wanita ini pun cuma bisa tersenyum-senyum melihat tingkah polah kedua bapak ini. Saya bersama penumpang-penumpang di sebelah saya pun juga hanya tertawa. Kedua orang ini memang menjadi hiburan tersendiri di tengah kegerahan.

Beberapa saat kemudian, dengan gayanya yang agak sok, si bapak lakon menraktir kopi seorang bapak bertampang Arab yang juga baru dikenalnya dan dipanggilnya dengan sebutan “abah”. Ia seakan terlihat tak mau kalah dermawan dengan si bapak berlogat Jawa Tengah, padahal baru sejam sebelumnya ia sesumbar dan menggoda salah seorang wanita penjual nasi bungkus yang sudah hilir mudik tiga kali di hadapannya.
   
             “Mbak mbak, enek iwak opo ae tho?
             (Mbak mbak, ada ikan apa aja sih?)
   
             Si mbak menjawab, “Telor sama ayam, pak…
   
             “Waduh, lha aku alergi ayam mbek telor iki,

             lek iwak-iwak ora onok ta?
             (Waduh, lha saya alergi ayam sama telor,

             kalo ikan-ikan ada nggak?)
   
             Si mbak menjawab lagi dengan sabar,

             “Nggak ada, bapak…
   
             “Wah yowis ora sido tuku nek ngono.
             (Wah ya sudah tidak jadi beli kalau begitu.)


Akhirnya si mbak ngeloyor dengan seutas senyum. Sementara si ibu di sebelah saya langsung menimpali, “Halah halah pak, iso-iso ae tho lek nggudoi, lha wong jelas-jelas dodolane ayam seng ditakokno koq iwak. Lha engkok lek dodolane iwak seng ditakokno ayam, lek ancen niat ora tuku yo mbok ora usah takok-takok…” (Halah halah pak, bisa-bisanya kalau menggoda, lha sudah jelas jualannya ayam yang ditanya koq malah ikan. Lha nanti kalau jualan ikan yang ditanyain ayam, kalau memang niat tidak beli ya mbok tidak usah tanya-tanya…)

Si bapak lakon hanya tertawa terbahak-bahak. Ia sungguh santai menghadapi segala sesuatu, meskipun kelelahan terpancar dengan jelas dari wajahnya yang sudah mulai dibanjiri peluh.
 
III

Setelah 7 jam perjalanan…

Di tengah sedang asyik makan nasi bungkus, saya dikejutkan dengan teriakan bapak-bapak penumpang di belakang saya. Tiba-tiba ia melompat ke atas kursi, tak ayal saya pun kaget dan langsung berdiri. Si bapak ini langsung mencak-mencak kesetanan tidak karuan, seperti orang yang sedang memperagakan jurus silat. Matanya pun menatap dengan nyalang dan menyapu seluruh penumpang, termasuk saya, membuat sedikit bergidik. Ia duduk bersama anak perempuannya, sontak si anak ini langsung menangis keras sekali sembari berteriak, “Maaf pak, maaf pak, maaf pak…”. Kemudian salah satu temannya mencoba menenangkan si bapak, tapi malah dipukul seakan-akan ia adalah musuh.

Seketika saja, orang-orang langsung mengerubuti dan mencoba menenangkan si bapak. Setelah melalui proses yang agak lama, dan membutuhkan lebih dari 3 orang lelaki, akhirnya si bapak yang berasal dari Madura ini mulai dapat ditenangkan dan dipapah duduk kembali di kursinya.

Dan barulah kemudian saya menyadari, bahwa nasi bungkus saya tadi telah terlepas dari genggaman dan akhirnya meluncur ke bawah kursi. Sialan.

Kemudian si bapak brewok (suami ibu yang duduk satu kursi bersama saya) tukar tempat duduk dengan mas asal Jakarta, dan akhirnya satu kursi juga dengan saya. Lalu ia bercerita kepada kami, bahwa bapak yang mencak-mencak tadi berangkat ke Jakarta untuk menjemput anak perempuannya di agen penyaluran TKW. Dan ternyata si bapak mendapati bahwa anak perempuannya (yang bekerja di Arab) ini telah menikah dengan seorang lelaki. Padahal ia baru seusia anak SMP, entah karena stress atau entah ada masalah lain, akhirnya si bapak ini semenjak awal perjalanan seperti mengalami depresi. Pantas saja, yang saya tahu sedari berangkat si bapak ini memang terlihat lemas seperti orang sakit.

Lalu, obrolan berlanjut, satu persatu penumpang mulai bercerita tentang dirinya, tentang si ibu-bapak asal Blitar yang baru saja mengunjungi keluarga di Jakarta, si bapak lakon yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk melatih pagelaran Reog Ponorogo di beberapa kota, si bapak berlogat Jawa Tengah yang kangen keluarganya di rumah, si wanita muda yang ternyata adalah TKW dan hari ini ia pulang ke Tulungagung membawa boneka panda untuk menghadiahi anak perempuan yang telah lama berpisah darinya.

Perlakuan, obrolan-obrolan maupun kisah-kisah yang meluncur dari para penumpang ini membuat saya merasakan suasana yang berbeda. Ternyata dunia ini akan selalu memberikan senyumnya yang terindah di saat kita memiliki hasrat untuk saling berbagi.

Setelah cukup lama bergunjing, satu persatu dari kami pun tertidur pulas.

IV

Pagi hari… 

Perjalanan telah sampai di Madiun, tepat waktunya sarapan. Kami pun beramai-ramai membeli pecel Madiun yang cuma seharga 3000 rupiah. Lauknya memang tidak terlalu banyak, tapi porsinya cukup lumayan. Tiba-tiba (dan kenapa selalu tepat di saat saya sedang makan) si bapak Madura ini melongok ke kursi saya kemudian bicara ke bapak brewok dengan logat Jawa Timuran, “Pak, tulung sampeyan lungguh sebelahku kene ae ngancani aku yo pak, aku wedi, onok seng arep mateni aku pak…” (Pak, tolong anda duduk di sebelah saya saja nemenin saya pak, saya takut, ada orang yang mau bunuh saya pak…) 

Hekz, sedang nikmat mengunyah nasi tenggorokan saya langsung tercekat.

Tapi si bapak brewok menjawab dengan santai, “Iyo pak, wes ta lah sampeyan lungguh  seng tenang ae nang kono, moco Al-Fatihah seng akeh, gak onok opo-opo koq…” (Iya pak, bapak duduk yang tenang aja disana, baca Al-Fatihah yang banyak, tidak ada apa-apa koq…)

Akhirnya si bapak Madura kembali duduk tenang di tempatnya.

Saya benar-benar tidak habis pikir. Ada-ada saja.

Tapi belum berhenti di situ, sejam kemudian si bapak Madura kembali merengek ke bapak brewok dengan kata-kata yang persis sama. Si bapak brewok masih menanggapi dengan santai, “Iyo iyo wes ta lah, sampeyan lungguh ae, engkok tak gawakno bedil.” (Iya iya sudahlah, anda duduk aja, nanti saya bawakan pistol.)

Saya agak sedikit geli mendengar jawaban itu, tapi juga masih heran dengan bapak Madura satu ini, benar-benar tingkah lakunya tidak wajar.

Satu persatu penumpang mulai banyak yang turun, diawali si bapak pelakon Reog Ponorogo, kemudian bapak berlogat Jawa Tengah hingga wanita muda TKW yang membawa boneka panda.

V

Menuju 20 jam terakhir…
Puncak dari kericuhan ini, satu jam sebelum bapak brewok ini turun, si bapak Madura kembali merengek dengan permintaan yang persis sama. Akhirnya si bapak brewok menuliskan beberapa ayat Al Qur’an di secarik kertas, mungkin ia berusaha menenangkan hati si bapak Madura ini, karena sebentar lagi ia juga harus turun. Pastinya ia enggan jika nantinya ada masalah yang merecokinya lagi. Setelah selesai, ia berikan kertas itu pada anak perempuan si bapak Madura tersebut, dan berpesan agar sering-sering dibaca.
Kemudian si ibu-bapak asal Blitar ini bersiap turun, seperti penumpang-penumpang sebelumnya, keduanya juga berpamitan dan menyalami saya, bahkan si ibu sempat menawarkan, “Mas, kapan-kapan main ke rumahku ya, dekat sini aja koq…
Saya terdiam beberapa detik, sungguh saya tidak menyangka akan ditawari seperti itu oleh orang yang baru saya kenal, apalagi dalam perjalanan. Entah itu sekadar basa-basi atau tidak, tapi saya pikir itu pasti karena keterikatan yang telah muncul di antara kami sesama penumpang, walaupun hanya sesaat.
Lalu saya menjawab, “Hehe, iya bu, insyaallah kalo ada waktu pasti mampir…
Akhirnya kami melambai satu sama lain.
Kemudian si mas asal Jakarta berpindah tempat duduk agar bisa selonjoran. Saya duduk sendirian, tapi tidak lama, jujur saya agak takut dan khawatir dengan bapak Madura itu maka akhirnya saya putuskan untuk pindah tempat pula, daripada nanti saya yang diminta tolong, tambah runyam.
Saya menemukan kursi kosong untuk merebahkan badan, dan sebelum memejamkan mata saya sempat memikirkan kilas balik kejadian beberapa jam ke belakang.
Ada banyak kekisruhan di dalam, begitu pula udara panas yang tak bisa kompromi, kecuali di kala hujan deras. Semua itu membuat kesal dan capek. Juga ada banyak kericuhan dari para pedagang asongan, tapi mereka tak pernah lupa untuk saling bertukar lelucon dan menyapa penumpang ketika bertatap muka. Ataupun para pengamen yang selalu mampu mengusir rasa kantuk kami dengan suara-suara fals tapi bersemangat. Tapi sungguh menyenangkan ketika menyadari bahwa perjalanan dengan armada rakyat kelas bawah ini membuat kami menjadi satu keluarga besar yang saling berbagi rasa dan tawa, bebas dari alienasi sosial, walau hanya untuk 20 jam.
Dan bagi kami para penumpang mungkin terselip satu perasaan yang seirama:
Selalu ada keindahan dimanapun kita menjejakkan kaki, bahkan di tengah suasana yang tak nyaman, hanya perlu sedikit membuka mata dan melawan kegarangan hati.
Pemberhentian terakhir, saya turun dengan menenteng senyum lebar dan rasa lelah yang telah hambar.
   
Selamat tinggal 20 jam yang ajaib…

Monotheis.

sebuah makna adalah perpanjangan tangan kuasa,
karena dialah kendali yang diamini

Malang. 17 Februari 2011