Seni Telah Mati?


Kahlil Gibran pernah menyiratkan renungan:

Seni orang Mesir adalah dalam ramalan

Seni orang Khaldik adalah dalam perhitungan
Seni orang Yunani adalah dalam perbandingan
Seni orang Romawi adalah dalam gema
Seni orang Cina adalah dalam tata cara
Seni orang Hindu adalah dalam menimbang baik dan buruk
Seni orang Yahudi adalah dalam rasa pesimis
Seni orang Arab adalah dalam pengingatan masa lalu dan pelebih-lebihan
Seni orang Persia adalah dalam kerapian
Seni orang Perancis adalah dalam kecermatan
Seni orang Inggris adalah dalam analisis dan perasaan benar sendiri
Seni orang Spanyol adalah dalam fanatisisme
Seni orang Italia adalah dalam keindahan
Seni orang Jerman adalah dalam ambisi
Seni orang Rusia adalah dalam kesedihan 

Para Dadais mendeklarasikan penghancuran seni karena mereka melihatnya sebagai simbol utama dari kultur borjuis. Namun, mereka juga percaya bahwa seni dapat didefinisikan ulang sebagai sebuah pengalaman yang sepenuhnya di dalam hidup.

Lain daripada itu, kaum Kiri justru mengklaim seni realisme sosialis sebagai sebuah karya yang membawa pesan-pesan pembebasan dan perjuangan rakyat.

Banksy yang dikenal sebagai seorang street artist dengan pesan bernada satir dan menohok pun karya-karyanya telah dibanderol hingga jutaan dolar menjadi jajaran koleksi ‘tidak berguna’ bagi bintang-bintang Hollywood seperti Angelina Jolie.

Sementara itu, para insurgen Pemberontakan Paris 1968 memperingatkan bahwa “seni telah mati, jangan nikmati bangkainya.

Semenjak dahulu, sebuah mahakarya seni memang dapat dihargai setara dengan biaya hidup rakyat Ethiopia dalam satu kampung untuk beberapa bulan. Apalagi jika karya tersebut sudah masuk ruang galeri atau pameran kelas wahid dan mendapatkan pengakuan dari para kurator atau intelektual ternama. Ukiran penis kayu yang ujungnya dicocok peniti karya Made Wianta pun dapat dihargai ratusan juta. Padahal banyak dijual di Bali di emperan-emperan cinderamata seharga 10 hingga 20 ribu rupiah. Atau instalasi toilet karya Marchel Duchamp (yang dinamai “Fountain”) yang begitu digadang-gadangkan sebagai avant-garde. Padahal itu hanya tempat untuk buang hajat yang tersedia dimana-mana.

Ataukah ide telah menjadi begitu mahadaya?

Atau justru orang-orang itu yang membuatnya menjadi nampak begitu berharga?

Sebaliknya, pada saat yang sama, bagiku, mungkin juga kamu, coretan-coretan pada kertas usang pun dapat menjadi sebuah karya seni, walaupun tidak ada seorangpun yang pernah menganggapnya berharga, setidaknya untuk kita nikmati sendiri.

Jadi, sesungguhnya apa itu seni kalau ia telah melebur ke dalam segala ruang, dan mampu menjelma menjadi apa saja?

2 komentar:

Posting Komentar