Negaraku Pusaraku.

              "jika bagimu negara adalah altar paduka,
              maka bagiku tak lebih dari sekedar pusara dunia."


              sejarah berkeringat.

menggeliat dengan darah yang merapal setiap jengkal kuasa
ibarat bayi yang terlahir dengan teriakan lantang memecah kebekuan
udara baru mengalir
menelan bongkahan kelam
dan memuntahkan sejuta harapan

              "tumbangkan!" teriak massa yang amarah
              maka setiap tiran akan gemetar

tak ayal raksasa yang disembah itupun bakal terkapar
memohon ampun pada semesta
tapi terlambat, kata-kata telah meledak
laksana petir yang mengguncang
kerongkongan yang tersekat telah mengumpat laknat
dan tiran pun tumbang

              tapi negara tidak akan binasa.

penguasa penguasa baru akan berdatangan
menyodorkan mimpi pada barisan massa yang kebingungan
karena di benak mereka akan selalu bertanya,
"hendak kemana jika para tiran telah ditanggalkan?"

              sejarah mencatat.

pesta pesta akbar akan kembali digelar
topeng topeng baru akan menjelma menjadi selebritis kesiangan
mimpi dan harapan akan tersusun serupa makan malam
cepat dihidangkan cepat pula dihilangkan

semua kelam akan terkubur bersama kenangan heroik
di dalam kotak pandora yang terlupakan
kebebasan harus kembali disiagakan
kemerdekaan harus dirancang serupa drama
di bawah momok penguasa dan pengawasan moncong senjata

              dan.
              hip hip hura!

              sekali lagi sejarah mencatat
              kebodohan yang sama akan kembali terpahat

ribuan tiran siap binasa
tapi negara akan selalu melahirkan
para bandit penguasa

              itulah kenapa.

negara tak lebih dari sekedar pusara
bagi kebebasan dan kesetaraan
yang kehilangan wibawa

Malang. 22 Oktober 2010

0 komentar:

Posting Komentar